#Rioplus20: Tamu di Rio de Janiero

Gunung Sugar Loaf dan Christo Redentor merupakan sebagian gunung yang dijadikan landmark sekaligus tempat rekreasi.

Rio De Janeiro merupakan kota yang dipilih masyarakat internasional untuk mengadakan hajatan besar seperti Rio +2o, Piala Dunia 2014 dan Olympiade tahun 2016. Pertanyaannya adalah mengapa acara tersebut terjadi (disengaja dan dipilih) di Rio, di tempat seperti apakah yang dipilih dan bagaimana menggerakan komunitas kota untuk mensukseskan acara besar tersebut. Sebuah acara akan sukses diselenggarakan bila memenuhi factor-faktor tempat, kesiapan tuan rumah, materi yang akan dibahas dan tentunya tidak boleh ketinggalan factor hiburan yang seringkali tidak masuk dalam proposal tetapi diagendakan setiap orang yang datang (minimal disembunyikan dalam pikiran).

Rio merupakan kota pantai di katulistiwa yang dikelilingi dengan bukit-bukit terjal dan tinggi, membentuk bentang alam yang khas antara putihnya gedung-gedung betingkat dibawahnya dengan gunung hijau atau gunung batu granit dibagian atasnya. Kadangkala penghuni sebelumnya atau perencana kotanya sengaja menempatkan bangunan monumental di puncak gunung-gunung tersebut dengan alasan membuat landmark, nuansa spiritual ataupun rekreasi.

Rio juga kota taman yang relative bersih, pegawai kebersihan yang ditandai dengan baju orangenya beserta mobil pembersih selalu hilir mudik tiap pagi membersihkan dan menyikat jalan, pantai, ruang public dan area rekreasi. Disarankan wisatawan tidak ke pantai terlalu pagi karena sampah alami dan pengunjung yang tidak bertanggung jawab masih menyisakan sampah. Baru sekitar jam 10 pagi pantai tersebut terlihat bersih, putihnya pasir berpadu dengan beningnya laut.

Transportasi relative mudah dan murah, menggunakan metro (kereta bawah tanah) sekitar 15.000 rupiah untuk semua rute, jauh maupun dekat. Untuk Bis umum bervariasi antara 12.500,- sampai dengan 25.000,-. Biaya transportasi ini murah karena harga makanan seperti kemasan air minum 1 liter juga berharga 15.000,-.Jadi lebih murah dari biaya sekali makan sekitar 45.000,-. Disayangkan trem listrik yang menghubungkan pusat kota (down town) dengan permukiman di lereng-lereng gunung dimatikan dan digantikan dengan bis umum dengan muatan sekitar 20an penumpang yang terlihat hilir mudik diatas jalan bekas trem listrik. Seandainya trem ini masih ada maka akan menggembirakan wisatawan yang akan menawarkan suasana perkampungan (favela) dilereng-lereng bukit, suasana kota dari atas, bekas aquaduct (saluran air kuno) dan wilayah pusat perdagangan.

Pemandangan Rio dari perkampungan di lereng bukit

Aquaduct di Rio de Janiero

Hal ini mirip sekali dengan hajatan yang diselenggarakan dalam keluarga Indonesia, yang tak segan-segan menutup jalan umum atau ruang public untuk kepentingan hajatan seperti sunatan, pernikahan, perayaan keagamaan, silahturahmi trah bahkan sampai dengan kematian. Segala upaya dilakukan untuk memberitahukan kepada komunitas disekitar rumah akan pentingnya hajatan tersebut dan diharapkan sambatan, sumbangan dan pirukunan terjadi dalam mempersiapkan, melaksanakan dan membereskan segala sesuatunya pasca hajatan.

Demikian pula dengan peristiwa Rio+20 ini, sosialisasi kepada penduduk kota dilakukan dengan pengadaan pameran yang berisi segala permasalahan bumi di ruang public, ruang terbuka di depan teater, museum, pantai sampai ke lapangan atlit dipersiapkan untuk interaksi dan pembelajaran bagi masyarakat kota Rio sekaligus tamu-tamu yang menginap di banyak hotel yang ada. Kurang lebih ada 120 persoalan detil di muka planet ini yang keseluruhannya dikemas dalam tema green economy dalam pembangunan berkelanjutan, karena issue keberlanjutan sangat terkait dengan aspek ekonomi, social dan lingkungan.

Tiap panel berisikan masalah di planet bumi sekaligus ditunjukan satu contoh kasus dan koordinat tempatnya.

Selain proses pembelajaran terutama mengenali persoalan dunia ini, banyak stand dari NGO baik local maupun internasional yang membuka stand untuk memamerkan atau upaya melaporan pertanggunganjawaban kepada semua orang tentang apa saja yang telah dilakukan. Misalnya green peace tetap konsisten menyuarakan teknologi alternative seperti penggunaan listrik dari solar cell atau kompor matahari.

Kompor matahari green pease

Terakhir tentang hiburan, sedemikian beragam bentuk hiburan yang memanjakan panca indra mulai dari popcorn minyak babi sampai hal yang taboo dipertunjukkan di Indonesia, penyembuhan spiritual, semua ada di Rio. Semua tergantung kepada pribadi-pribadi yang datang di Rio. Ada dan tidak adanya tamu di Rio +20, ataupun tamu piala dunia dan olympiade, kota Rio tetap cantik baik dilihat dari aspek fisik maupun kehidupan socialnya. Dan sepatutnya sebagai tamu harus menyelaraskan dengan etika keramah-tamahannya walaupun beda bahasa.

 

Terima kasih – Obrigado

Laporan Setyo Dharmodjo dari Rio