#Rioplus20: Membakar Keputusasaan

Stand yayasan local yang memperjuangkan biodiversity dengan menampilkan kerusakan akibat pembakaran

Dari 120 persoalan dunia saat ini yang diposterkan dalam Rio +20 adalah soal kebakaran atau pembakaran karena berbagai sebab, diantaranya adalah kegagalan teknologi, kelalaian manusia, konflik, pembukaan lahan pertanian, sabotase, perubahan iklim global, pemusnahan sampah, adat istiadat dan masih banyak penyebab lainnya. Kebakaran atau pembakaran seluruhnya bermula dari manusia kecuali yang disebabkan petirk kekeringan panjang dan lava gunung berapi. Sengaja atau tidak sengaja dengan adanya kebakaran telah memusnahnya harta benda, jiwa manusia, dan keragaman hayati. Ada sekitar 10 ribuan kejadian kebakaran besar tiap tahunnya terjadi di planet bumi ini. Bila kejadian ini didetilkan berapa emisi gas CO2, hilangnya mata air, hilangnya kesuburan tanah dan hilangnya biodiversity dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh.

Sebuah yayasan local di Rio yang bergerak di bidang penghijauan kembali hutan di Brasil menyerukan bahwa pembakaran hutan lebih cenderung sikap keputus-asaan. Sikap yang harus dihindari karena sempitnya pengetahuan manusia tentang nilai ekonomi, social dan lingkungan dari lahan yang dibakar. Sebut saja pembakaran hutan karena perladangan berpindah atau pembukaan hutan industry manfaat ekonominya lebih sedikit dibandingkan dengan kerusakannya, bila pengetahuan manusia cukup luas dan terbuka maka dari hutan dapat diambil madu, buah, getah, tanaman obat, budidaya anggrek, O2 yang tak ternilai dan masih banyak nilai ekonomi yang tidak perlu memusnahkan hutan.

Stand yayasan local yang memperjuangkan biodiversity dengan menampilkan kerusakan akibat pembakaran

Siron Franco juga menyuarakan hal yang sama, dia adalah seorang seniman Brasil yang memilih dan menggeelar karya seni instalasi di museum seni modern Rio de Janeiro yang berjudul Brasil Cerado (Alam Brasil). Instalasi ini dilandaskan pada keprihatinan kebakaran yang banyak diperbuat oleh manusia dengan berbagai alasannya, apakah alasan ekonomi seperti membuka perkebunan tanaman industry, social seperti menunjukkan rasa marah kepada sesuatu bahkan alasan lingkungan seperti membunuh tanaman gulma agar tunas muda alang-alang dapat menjadi makanan ternak dan memecahkan biji agar mau bersemi. Cara membakar ini seolah benar atas alasan mulia tersebut, tetapi dalam pelaksanaan dan dampaknya banyak manusia belum mengetahui nilai negative dari sikap membakar ini. Berangkat dari keprihatinan tersebut, dia membuat instalasi dengan urutan:

  1. Lorong air yang diungkapkan dengan multimedia sehingga pengunjung merasakan kesejukan dan pentingnya air bagi kehidupan.
  2. Ruang bioluminasi yang didesain seperti rumah rayap di Merauke atau Afrika dengan lubang-lubang kecil bercahaya. Hal ini dimaksudkan ada banyak hal yang manusia belum tahu tentang keragaman hayati dan karakternya.
  3. Lukisan batu jaman purba, flora dan fauna yang keseluruhannya ditampilkan dengan skala monumental dengan bantuan LCD.
  4. Lorong api yang dilengkapi dengan bau asap menceritakan tentang gemuruh api yang tidak terkendali.
  5. Lembaga nasional untuk penelitian tentang persoalan ini, dilengkapi pula dengan monitor yang secara periodic menampilkan kebakaran riil di berbagai tempat di bumi ini.
  6. Siluet dari binatang yang hamper punah karena kebakaran ini seperti jenis anggrek langka, tanaman obat, kijang endemic, tapir, kupu dan banyak species flora fauna lainnya.

Dari seni instalasi ini diharapkan siapapun yang hadir akan menjadi manusia baru dengan wawasan baru untuk memperjuangkan penghentian pembakaran ataupun kebakaran dengan alasan apapun. Akhir dari pameran ini, ditutup dengan kata-kata sindiran dari Victor Hugo bahwa betapa memprihatinkan untuk memikirkan alam yang telah menyuarakan tetapi manusia tidak mendengarnya.

Kota Rio sendiri pernah tercatat dalam 5 tahun terakhir ini terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan kota karena factor kekeringan yang panjang tahun 2007, kekerasan oleh geng shantytown tahun 2010 dan kebakaran permukiman kumuh tahun 2011. Etika harus dikembangkan bersamaan dengan peningkatan pengetahuan manusia akan masalah kebakaran dan penegakan hokum bagi yang melanggarnya. Inilah kunci hidup bersama di planet bumi yang terasa semakin sempit dan penuh masalah, bukan hanya hak manusia yang perlu diperjuangkan tetapi juga hak alam untuk dihormati.

Laporan Setya Dharmadja dari Rio de Janiero, 14 Juni 2012