#Rio+20: Keselamatan dan Keselamatan di Jalan

Seorang ibu yang terlelap di bawah pepohonan pantai

Tanggal 11 Juni 2012 di dalam tayangan TV Rio diberitakan bahwa sebuah truk pengelolaan sampah (bukan truk sampah semata) menabrak bis umum, tidak ada kerusakan berarti apalagi timbul korban luka atau meninggal. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa berita ini penting untuk ditayangkan, apakah ini bagian dari promosi pemerintah untuk menyadarkan pentingnya keselamatan dan keamanan dalam bertranportasi?. Fakta yang diungkap dalam pameran poster Rio +20 dengan tema Terra Vista dijelaskan ada 1,2 juta orang meninggal tiap tahunnya di muka bumi ini karena kecelakaan lalu lintas, belum terhitung yang luka-luka baik ringan maupun berat.

Dalam bertransportasi setidaknya ada factor sarana dan prasarana transportasi yang perlu diperhatikan disamping manajemen transportasi pada umumnya. Sarana transportasi di Rio de Janeiro banyak didominasi dengan bis umum yang lebih fleksibel menjangkau seluruh wilayah kota tersebut, termasuk naik dan turun bukit dengan kemiringan tajam. Sedangkan Metro atau kereta listrik bawah tanah lebih cenderung melayani pergerakan penduduk di dataran rendah yang berbentuk L, metro ini terbagi atas jalur biru yang lebih jauh pergerakannya menjangkau antara pertumbuhan permukiman baru di Rio bagian Utara dengan CBD (Center Bussiness Distrik) di kota lama Janeiro, sedangkan line orange lebih cenderung melayani pergerakan di dataran rendah yang menghubungkan kota lama dengan wilayah pertumbuhan permukiman di sepanjang pantai. Jalur orange inilah yang dipersiapkan untuk kegiatan pariwisata di Rio, yang menawarkan peninggalan arsitektur masa lalu (Portugis), landmark termasuk monumen-monumen dan pantai. Ojek juga ada dan sama dengan kondisi di Indonesia, menempati di mulut gang yang umumnya ada pemberhentian bis umum dan metro.

Bis umum selalu diberi tanda kursi roda, sebagai symbol bahwa bis tersebut telah dipersiapkan untuk mengangkut manusia rentan seperti ibu hamil, orang tua, anak balita dan difabel. Kursi di dalam bis juga dipilihkan dekat dengan sopir dan kursi kondektur sehingga percakapan mau turun dimana selalu terjalin. Uniknya, tiap bis berAC (airconditioning) dilengkapi dengan palu besi yang dihitung berdasarkan jumlah penumpangnya, tiap dua baris kursi atau tiap empat orang dipersiapkan 1 palu besi yang dilengkapi dengan stiker bagaimana menggunakannya dalam keadaan darurat. Sedangkan untuk bis tidak berac juga dipersiapkan dengan tuas yang apabila ditarik akan melepaskan jendela-jendelanya mirip dengan jendela emergency pesawat terbang.

Kepedulian terhadap manusia rentang juga menjadi prioritas dalam merencanakan pedestrian, arcade, taman, bangunan social maupun bangunan umum. Jelas telah memikirkan ramp dengan kemiringan yang nyaman, tegel bertekstur untuk tuna netra, barikade jalan yang intinya adalah untuk keamanan dan keselamatan pejalan kaki. Kelucuan-kelucuan kecil juga seringkali terjadi, misalnya pedestrian didesain dengan mosaic batu paras dan dipola dengan gambar atau ornament indah tetapi justru membuat pengguna kursi roda bergetar hebat karena belum ada pegas di kursi roda. Contoh lainnya teman dari Indonesia (Pak Sigit) lebih memilih jalan beraspal yang sebenarnya digunakan untuk kendaraan bermotor ketika harus berpindah penginapan, katanya terasa sangat berat menarik koper beroda di mosaic pedestrian selain juga takut rusak roda koper mahal miliknya.

Halte pada umumnya dibagi dalam 5 tempat, diistilahkan sebagai halte 1, 2 dan seterusnya dengan jarak yang relative berdekatan sehingga pemusatan penumpang dengan berbagai tujuan dapat dikurangi. Peta posisi halte, nomer bis dengan berbagai tujuan serta halte ini termasuk nomer berapa selalu terpasang jelas di halte tersebut. Penumpang rata-rata menunggu 5-10 menit sebelum bis datang, ini artinya begitu banyak transportasi bis yang secara regular berlalu lalang menjemput dan menurunkan penumpang. Halte cukup dilengkapi dengan tempat duduk dari bahan besi kecil yang terasa dingin dan tidak memungkinkan untuk dijadikan sarana istirahat apalagi untuk tidur gelandangan.

Anehnya dalam berbagai perjalanan dengan menggunakan bis umum, metro atau ojek jarang sekali penumpang disediakan tempat duduk, kecuali di metro ada beberapa tempat duduk yang diperuntukkan untuk manusia rentan. Hal ini juga terjadi di area wisata seperti pinggir pantai, tidak ada satupun shelter yang dipersiapkan kecuali tempat duduk yang amat sedikit. Apakah ini merupakan strategi agar setiap orang bergerak (karena memang udara di luar relative dingin walaupun di daerah tropis) yang perlu dirasakan ataukah merupakan strategi agar wisatawan berteduh di kedai-kedai agar laku pedagang-pedagang kecil di tempat umum maupun di tempat wisata sehingga roda ekonomi untuk masyarakat berputar. Kontra pemikiran tersebut juga terjadi, Nampak beberapa tuna wisma memang benar-benar dapat saja tertidur lelap di bawah keteduhan pepohonan.

Jembatan layang ataupun terowongan memang dipilih untuk menyeberangkan orang di jalan-jalan besar, sedangkan di jalan kecil tetap dilayani dengan lampu pengatur lalu lintas. Dan pemerintah Rio perlu diacungi jempol karena berhasil memperbanyak ruang untuk pejalan kaki yang dibuktikan dengan beberapa ruas jalan dirubah untuk ruang public dan pedestrian. Dan pemikir-pemikir perencanaan kota yang humanis ini diabadikan dengan patung-patung setengah badan, sehingga siapa yang mau maju dapat berangkat dari pemikir-pemikir tersebut.

Wisatawan dan tokoh perencana kota

***Laporan Setya Dharmadja dari Rio