#Rio+20: too important to fail!

Rio+20 is too important to fail, tegas Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon

Tentu saja kita tidak bisa berharap bahwa Rio+20 akan bisa melahirkan seluruh jawaban, tegas Ban, namun adalah penting bagi para pemimpin untuk setidaknya menyutujui batang tubuh dari rencana. “Jika kita tidak sungguh-sungguh melakukan tindakan yang tegas, kita mungkin akan menghadapi kebuntuan, kebuntuan tentang masa depan kita,” tandas Ban.

Negosiasi resmi Rio+20 telah dimulai pada tanggal 13 Juni 2012 lalu. Negosiasi tersebut dibuka dengan sidang pleno yang singkat yang dilanjutkan dengan sesi-sesi negosiasi untuk membahas masalah-masalah penting dan berat. Delegasi negara-negara berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan outcome utama Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan, untuk kemudian difinalisasi dalam Pertemuan Tingkat Tinggi yang akan dimulai tanggal 20 Juni 2012 yang akan datang.

Sebagaimana diketahui, negosiasi terkait dengan outcome dokumen mengacu pada zero draft “the future we want”. Negosiasi ini telah dimulai di New York pada akhir Januari 2012 dan diresume pada 13 Juni 2012 di Rio pada Pertemuan Komite Persiapan Ketiga (3rd Preparatory Committee meeting) dan akan berakhir pada 15 Juni malam. Setelah itu, Brazil diharapkan mengambil alih proses dalam kapasitasnya sebagai presiden konferensi.

Saat pertemuan negosiasi resmi itu dibuka, sekitar dua pertiga dari 80 halaman draft outcome dokumen masih belum mendapatkan kesepakatan. Menurut Meena Raman dari Third World Network (TWN), tidak ada yang percaya jika proses persiapan (prepcom) resmi dapat menyelesaikan masalah-masalah yang paling sengit diperdebatkan.

Pada hari pertama pertemuan prepcom Rio, terdapat perdebatan yang keras terkait dengan isu tentang teknologi. Negara-negara maju bersikeras mendesak agar istilah “transfer teknologi” dihapuskan dari judul seksi teknologi. Amerika Serikat berpandangan bahwa transfer teknologi tidak relevan dengan upaya negara-negara berkembang untuk pembangunan berkelanjutan. AS juga menghendaki penghapusan seluruh referensi terkait dengan hak kekayaan intelektual.

Perdebatan yang tidak kalah keras pun terjadi pada isu green economy. Negosiasi terkait “green economy” telah dihentikan pada 14 Juni 2012, pukul 17:25, ketika Group 77 dan China mendesak untuk melihat progres implementasi sebelum melanjutkan pembicaraan tentang green economy dengan kelompok negara-negara yang disebut dengan “splinter group”.

Dengan hanya tersisa dua hari, terhitung sejak 13 Juni 2012 dan berakhir pada 15 Juni 2012, untuk memfinalisasi outcome dokumen, pertanyaan kunci yang patut diajukan dalam koridor negosiasi yang diselenggarakan di Rio de Janeiro adalah bagaimana Pemerintah Brazil selaku tuan rumah menyelenggarakan konsultasi informal mulai 16 Juni yang diharapkan dapat memproduksi draft final atau mendekati final.

G77 Walkout

Kekhawatiran pada buntunya perundingan Rio+20 semakin menjadi-jadi. Negosiator dari negara-negara berkembang melakukan aksi boikot dari kelompok kerja inti tentang “green economy” sebagai reaksi atas penolakan negara-negara maju untuk memasukan transfer dana dan teknologi dalam kerangka mencapai pembangunan berkelanjutan.

G77 mengatakan bahwa dana dan hak kekayaan intelektual adalah krusial untuk mendorong perubahan yang diinginkan, seperti penghapusan subsidi untuk bahan bakar fosil, menciptakan lapangan kerja “hijau” di lapangan energi terbarukan, mendorong pertanian berkelanjutan dan memasukan indikator-indikator sosial ekonomi dalam pengukuran GDP. G77 mendesak penyediaan dana global untuk pembangunan berkelanjutan sebesar US$30 milyar sebagai inisial funding. Akan tetapi, Eropa dan AS yang tengah berkubang dalam krisis enggan memberikan komitmen pendanaan untuk kepentingan tersebut.

Seperti dilansir dari situs guardian.co.uk, Ban Ki-moon mendesak agar para pemimpin untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sekali dalam satu generasi untuk menggunakan kesempatan yang tersedia dalam Rio+20 untuk memetakan arah baru pembangunan sosial dan ekonomi dunia. “Pertemuan ini terlalu penting untuk gagal, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Kita harus menghasilan sebuah outcome praktis yang baik,” tegas Ban Ki-moon.

Tentu saja kita tidak bisa berharap bahwa Rio+20 akan bisa melahirkan seluruh jawaban, tegas Ban, namun adalah penting bagi para pemimpin untuk setidaknya menyutujui batang tubuh dari rencana. “Jika kita tidak sungguh-sungguh melakukan tindakan yang tegas, kita mungkin akan menghadapi kebuntuan, kebuntuan tentang masa depan kita,” tandas Ban.

Peran Indonesia: Perkuat Konsolidasi Selatan-Selatan

Ucapan-ucapan setengah putus asa dari Sekretaris Jenderal PBB terkait dengan hasil akhir KTT Rio+20 memberikan gambaran tentang suasana yang memang sangat genting. Ketidakhadiran para pemimpin penting dunia, seperti Presiden AS Barack Obama, Kanselir Jerman Angela Markel, dan PM Inggris David Cameron, sepertinya menutup peluang akan adanya kesepakatan tingkat tinggi yang signifikan yang bisa dihasilkan dari Rio+20.

Dunia berharap, Presiden Brazil mampu melakukan terobosan untuk memecah kebuntuan perundingan. Namun, di tengah situasi dunia saat ini, apapun terobosan yang dilakukan Pemerintah Brazil, tidak akan terealisasi jika tidak mendapatkan dukungan mayoritas negara-negara peserta KTT Rio+20, yang didominasi negara-negara berkembang.

Sikap keras kepala negara-negara maju, khususnya Uni Eropa dan Amerika Serikat, tentu bisa diatasi jika negara-negara berkembang bersatu dan menyuarakan kepentingan secara bersama-sama. Perlu disadari bahwa bandul dominasi global memang tengah bergeser ke Selatan, karenanya keberpihakan para pemimpin selatan, termasuk Pemerintah Indonesia, untuk memperkuat bandul dominasi selatan itu sangatlah diperlukan.

Itulah cara satu-satunya untuk memaksa Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk mau mengikuti arah jaman yang saat ini tengah berkembang. Seperti dikatakan Ban Ki-moon, inilah kesempatan yang hanya sekali dalam satu generasi, untuk menyelamatkan masa depan, untuk membayar janji kita pada generasi yang akan datang.***

Sumber: Guardian, Third World Network