#Rio+20 Belum Ada Kata Sepakat tentang Ekonomi Hijau

Salah-satu dari dua mandat terpenting KTT Bumi Rio+20 adalah merumuskan konsepsi “ekonomi hijau dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan”. Sama halnya dengan perundingan-perundingan global lainnya, perumusan konsep ini pun diwarnai dengan perbedaan yang tajam antar negara anggota.

Sebagaimana dilaporkan oleh Third World Network (TWN) – sebuah jaringan NGO yang aktif memantau perkembangan perundingan global yang berbasis di Malaysia, hingga forum negosiasi informal tentang outcome dokumen Konferensi Rio+20 yang diselenggarakan di New York pada 29 Mei-2 Juni 2012 lalu, kelompok negara-negara maju dan negara-negara berkembang masih berselisih paham tentang bagaimana memahami dan mengartikan konsep ekonomi hijau dalam konteks pembangunan berkelanjutan.

Sampai pada sesi penutupan negosiasi informal tersebut, hanya satu paragraf, yakni paragraf 61, yang disepakati. Paragraf tersebut berbunyi:

“We underscore the importance of governments taking a leadership role in developing policies and strategies through an inclusive and transparent process. We also take note of the efforts of those countries, including developing countries, that have already initiated processes to prepare national green economy strategies and policies in support of sustainable development”.

Poin-poin yang diperdebatkan masih seputar pengertian “ekonomi hijau”, peranannya dalam pembangunan berkelanjutan, serta prinsip-prinsip panduannya. Lebih lanjut, negara-negara anggota juga belum mendapatkan kata sepakat tentang bagaimana kebijakan ekonomi hijau dilaksanakan di tengah kondisi tidak adanya kesepakatan tentang skema pendanaan baru atau transfer teknologi. Alotnya perdebatan mengenai hal ini memunculkan skeptisisme di kalangan negara-negara berkembang.

India dan China, mewakili kelompok negara berkembang yang bergabung dalam “Group 77 (G77)”, menyatakan bahwa, “sebuah gagasan yang berkembang pada tingkat internasional seharusnya didukung oleh sumberdaya secara internasional”. G77 menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan terkait dengan “ekonomi hijau” mewakili salah-satu pendekatan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan tujuan konferensi, yakni pengentasan kemiskinan. G77 juga mendesak bahwa “kebijakan-kebijakan ekonomi hijau” harus dipandu oleh oleh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang sudah berlaku.

Sementara Uni Eropa yang didukung Korea Selatan dan Swiss tetap menyatakan bahwa “ekonomi hijau” adalah konsep yang berdiri sendiri dengan persyaratan pelaksanaan untuk seluruh negara dan bahwa pendanaan sektor swasta harus turut dimobilisasi untuk kepentingan ini.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menolak usulan-usulan yang yang mengaitkan ekonomi hijau dengan prinsip-prinsip kebijakan pembangunan berkelanjutan yang ada saat ini, khususnya kedaulatan nasional, hak atas pembangunan, prinsip-prinsip tanggungjawab yang sama namun dibedakan (Common but Differentiated Responsibilities Principles / CDRP), kewajiban untuk tidak merusak lingkungan, dan teks transfer teknologi sebagaimana tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Johannesburg atau “Johannesburg Plan of Implementation (JPOI)”.

Sulitnya mencapai kesepakatan dalam negosiasi KTT Bumi Rio+20 ini sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai forum lain, seperti forum WTO atau forum negosiasi perubahan iklim, perdebatan serupa pun terjadi. Khususnya terkait dengan perundingan KTT Rio+20 ini, dikabarkan baru 20 persen teks deklarasi yang sudah disepakati. Perbedaan-perbedaan yang tajam antar kelompok negara-negara masih terjadi dan belum menemui titik terang.

Alotnya perdebatan dan perbedaan yang tajam, sebenarnya menunjukkan tidak adanya kekuatan negara yang memiliki kemampuan untuk memimpin arah perdebatan menuju pada hasil-hasil yang konstruktif. Kepentingan politik yang berbeda antar negara telah menomorduakan kepentingan umat manusia, khususnya generasi yang akan datang.

Kita hanya bisa berharap, para pemimpin dunia mau berpikir “out of the box” dan menganggap bahwa KTT kali ini bukan business as usual. Masalah-masalah dunia sudah sangat banyak dan menuntut penyelesaian segera. Kini saatnya untuk bertindak, bukan berbasa-basi dan membuang-buang waktu dan kesempatan. Ingat, kita semua mempunyai utang pada generasi yang akan datang.

Bagaimana perdebatan-perdebatan yang terjadi dalam perumusan konsep ekonomi hijau, dapat disimak dalam laporan Third World Network No agreement and deep division on ‘green economy’.