SBY tunjuk Dr. Nafsiah Mboi sebagai Menkes

Image

Menteri Kesehatan Dr Nafsiah Walinono Mboi, DSpA, MPH

Jakarta, Yakkum. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk dr. Nafsiah Walinono Mboi, DSpA, MPH sebagai Menteri Kesehatan RI menggantikan Almh. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih. Sebelum diangkat menjadi menkes, dr. Nafsiah Mboi adalah Sekretaris Nasional Komisi Penanggulangan AIDS. Penunjukkan dr. Nafsiah Mboi memberi kesan bahwa SBY masih concern untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan lingkungan sebagai prioritas kebijakan kesehatan Indonesia sampai 2014.

dr. Nafsiah Walinono Mboi yang lahir di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940. Beliau merupakan anak kedua dari enam bersaudara dari Andi Walinono dan Rahmatiah Sonda Daeng Badji. Ayah Nafsiah adalah hakim yang pernah bertugas di Ujungpandang, Surabaya, Jayapura, dan Jakarta. Sedangkan Rahmatiah, perempuan ningrat Bugis yang peduli dengan pendidikan tinggi. Adapun kakek Nafsiah, Sonda Daeng Matajang, mengirim putrinya melanjutkan pendidikan di Bandung.

Nafsiah sendiri besar di Jakarta. Saat itu ayahnya mengambil sekolah ahli hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia saat Nafsiah masih duduk di bangku SMP kelas I. Nafsiah melanjutkan SMP-nya di Santa Theresia dan SMA di Santa Maria. Ketika masuk FK UI di Salemba, Nafsiah bertemu Aloysius Benedictus Mboi, yang akrab dipanggil Ben Mboi, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 1978-1988.

Keduanya menikah pada tahun 1964. Pada saat operasi Dwikora, keduanya terjun sebagai dokter sukarelawan dwikora. Tugas mereka adalah melayani kesehatan masyarakat di wilayah terluar republik ini. Sebetulnya Nafsiah kebagian jatah di Timor, tetapi karena sudah menikah maka dia ditempatkan di Ende selama tiga tahun. Pengabdian selama di Ende menjadikan dr. Nafsiah dijuluki “the mother of ende”.

Usai menjalani masa tugas sukarelawan Dwikora, Nafsiah mengambil spesialisasi anak dari FK-UI yang diselesaikan pada 1971. Pada 1978, Ben diangkat menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk itu Nafsiah lantas pindah ke Kupang mendampingi suaminya hingga 1988. Ketika menjadi istri gubernur itu Nafsiah kembali menjadi dokter masyarakat. Terjun mengabdikan diri di tanah NTT yang tandus, yang warganya terbelakang, dengan sarana dan prasarana yang minim.

Kerja keras Nafsiah dan Ben diakui dunia nasional dan internasional. Terbukti mereka mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ramon Magsaysay Award dan Satyalancana Bhakti Sosial atas jasanya dalam melakukan operasi bibir sumbing di NTT.

Kini, tanggungjawab besar berada dipundak dr. Nafsiah Mboi. Salah-satu tugas terberat yang mungkin harus dia pikul adalah mengejar ketertinggalan Indonesia dalam mencapai target-target MDGs di sektor kesehatan, khususnya dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak serta menanggulangi penyebaran HIV AIDS, malaria, TB, dan penyakit menular mematikan lainnya. Yang semua itu harus bisa dicapai sebelum 2015.***