#Rio+20: How Far Can We Go?

Jakarta, Yakkum. Dalam bulan ini, sebuah perhelatan akbar akan diselenggarakan di Rio de Janiero. Perhelatan tersebut adalah KTT Bumi tentang Pembangunan yang diselenggarakan oleh Badan PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan. Ajang tersebut merupakan peringatan 20 tahun KTT Bumi di Rio 1992 dan karenanya kerap disebut KTT Bumi Rio+20.

Perwakilan lebih dari 190 negara, termasuk 130 pemimpin, akan berpartisipasi dalam sesi formal. Sebagai tambahan, diperkirakan 50 ribu partisipan dari masyarakat sipil dan kelompok bisnis akan ambil bagian dalam side event dan konferensi rakyat (people’s summit). Karenanya, suka tidak suka, KTT ini menjadi salah-satu penentu masa depan pembangunan dunia, setidaknya untuk 20 tahun yang akan datang.

Dibandingkan dengan KTT serupa 20 tahun lampau, KTT Bumi Rio+20 jauh lebih besar. Akan tetapi, banyak dikritik karena dilihat tidak memiliki arahan output yang jelas dan tampak kurang ambisius. KTT Bumi sebelumnya, di Rio tahun 1992, berhasil merumuskan konvensi internasional tentang Perubahan Iklim dan Keanekaragaman Hayati, serta sejumlah dokumen berpengaruh lainnya. Kali ini, meskipun diharapkan tidak menghasilkan sebuah komitmen yang mengikat, namun penyelenggara berharap dihasilkan sebuah prinsip bersama, landmark, serta tujuan untuk masuk lebih jauh ke dalam tataran operasional tentang pembangunan yang berkelanjutan.

Berbeda dengan KTT Rio 1992, yang muncul membawa harapan perbaikan dunia pasca berakhirnya perang dingin, KTT Rio 2012 justru berlangsung ditengah meluasnya pesimisme warga dunia terhadap situasi yang berkembang saat ini. Krisis ekonomi, pemanasan global, kekerasan sektarian, kemiskinan dan serangkaian bencana akibat ulah manusia yang merenggut korban jiwa yang cukup besar mempersulit tumbuhnya optimisme di kalangan penduduk bumi.

Pesimisme

Pesimisme semakin menguat ketika kita menyimak trayektori perundingan-perundingan penting pada tingkat global justru kerap berujung pada kebuntuan (seperti perundingan putaran Doha WTO atau perundingan-perundingan tentang perubahan Iklim), komitmen yang sangat lemah perubahan yang dibutuhkan, dan kalaupun dicapai kesepakatan, kerap tidak diikuti oleh tindak lanjut yang konsisten oleh para pemimpin dunia yang terlibat dalam kesepakatan-kesepakatan tersebut.

Kini, di tengah tingginya harapan warga dunia, kekhawatiran akan gagalnya Rio+20 dalam membangun momentum perbaikan kondisi bumi justru kian menguat. Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, ketika ditanya wartawan pada Mei 2012 lalu mengatakan, “the negotiation have been paintfully slow”.

Pada saat Presiden AS Barack Obama lebih fokus pada pemilu dan pemimpin Eropa fokus pada penyelesaian krisis keuangan Eropa, pekerjaan-pekerjaan pendahuluan untuk menyusun nota kesepakatan dalam Rio+20 diserahkan kepada para birokrat yang tidak memiliki kewenangan politik untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Ban Ki-moon mengakui kurangnya perhatian para pemimpin dunia atas perundingan telah secara drastis menurunkan harapan untuk Rio. Meski demikian, dia berusaha untuk tetap optimis.

Karenanya cukup beralasan jika Direktur Jenderal WWF Jim Leape memberikan peringatan akan kemungkinan buntunya perundingan. “Sepertinya kita akan menghadapi dua kemungkinan skenario – sebuah kesepakatan yang lemah dan tidak banyak berarti, atau kebuntuan total. Tidak satupun dari dua skenario tersebut yang dapat memberikan apa yang dibutuhkan dunia”, ujar Jim Leape

Bagaimana dengan Indonesia?

Absennya Presiden AS Barack Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan beberapa pemimpin Eropa lainnya menyebabkan komposisi kehadiran para pemimpin negara akan didominasi oleh negara-negara berkembang dan dari Selatan. Situasi ini merugikan, sekaligus juga menguntungkan. Merugikan karena dengan ketidakhadiran para pemimpin tertinggi negara-negara maju maka harapan untuk menarik komitmen yang lebih besar bisa jadi tidak akan tercapai.

Namun di sisi lain, situasi seperti ini menguntungkan, karena dengan adanya konsentrasi para pemimpin negara-negara selatan dalam forum yang sama membuka kemungkinan untuk adanya keseimbangan baru dalam tata-politik dunia yang akan lebih berat ke selatan. Jika konsolidasi ini dipandu oleh kepemimpinan yang solid, bukan tidak mungkin, proposal-proposal negara-negara maju yang kerap berusaha melakukan “komoditisasi atas masa depan” melalui berbagai agenda, seperti transfer technology melalui skema perdagangan bebas, green economy, dll, bisa sedari dini ditangkal.

Dalam situasi seperti diterangkan di atas, posisi Indonesia cukup penting. Ketidakhadiran PM Inggris David Cameron selaku salah-satu co-chair mewakili negara maju, memungkinkan co-chair lainnya, yakni SBY dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf untuk berkolaborasi mengangkat isu-isu penting tentang kepentingan dan masa depan negara-negara Selatan. Di tengah harapan yang kian membeku, SBY dan Ellen Johnson Sirleaf diharapkan mampu menjadi ice-breaker, memecahkan kebuntuan dan menepiskan kekhawatiran.

Rio+20 memang bukan akhir dari segalanya, namun sangat mungkin menjadi awal bagi terciptanya masa depan yang kita inginkan. Pertanyaan besar saat ini, mampukah SBY dan Ellen Johnson mengemban amanat bumi untuk menerbitkan harapan bagi generasi yang akan datang?