Renungan Pembangunan yang Tak Berkelanjutan

Image

Di jalan yang terjal, ada sebuah bus yang berkapasitas 40 orang,  di dalamnya duduk  10 orang  yang membawa  berbagai  koper berisi bekal dan  cadangan makanan  yang diletakan di kursi-kursi sehingga kursi lain jadi penuh.   Di atas bak  mobil duduk  40 orang, ditambah lagi koper-koper milik  penumpang yang ada di dalam mobil  yang karena  tidak muat  lagi  ditempatkan diatas bus. Jalan mobil tersebut terseok-seok karena kelebihan muatan;  beberapa orang yang ada diatas  sesekali ada yang jatuh  dan  penumpang di dalam mobil memekik terperanjat   lalu mereka mendiskusikan  di sepanjang jalan bagaimana agar  yang ada diatas bus tersebut  bisa selamat , baik orang namun lebih khusus  lagi adalah koper-koper miliknya. Di sela diskusi tiba-tiba ada hujan – seorang penumpang berbaik hati melemparkan terpal ke atas  dan meminta agar terpal tersebut digunakan untuk menutup  koper agar tidak  basah,    para penumpang di atas juga boleh  beteduh dengan terpal tersebut , dengan prioritas anak-orang tua, dan para orang cacat dengan tugas  harus menjaga  koper-koper miliknya agar tidak jatuh dan basah.
Bus tersebut adalah  bumi kita, yang tidak bisa dilebarkan kapasitas dan daya dukungnya.  10 orang yang ada di dalam bus tersebut adalah  20% penduduk dunia yang menikmati dunia dengan mengkonsumsi 80% sumbar alam dunia.   Keadaan  penumpang di dalam bus yang adem karena ber-ace  adalah gambaran benua  utara,  sedang penumpang di atas bus adalah  gambaran benua  selatan,  sedang   koper-koper  di atas bus adalah barang milik  benua utara yang  ada di belahan bumi selatan, yang harus selalu dijaga keselamatannya dengan berbagai system global yang tak adil.    Kematian terbanyak  sudah pasti  dialami oleh penumbang di atas bus, karena mereka kekurangan logistic, tidak ada pengaman, lebih banyak terekspose oleh bahaya  alam dan sopir yang ugal-ugalan.
Banyak fakta menggambarkan  penderitaan manusia di belahan bumi selatan.  Hampir semua indicator MGGs dari soal kemiskinan, kematian ibu dan anak,  juga berbagai pengyakit menular terjadi di benua selatan.  Perubahan iklim  menghantui dunia selatan baik sebagai penyebab bencana, kekurangan  air bersih, kekurangan pangan dan berbagai penyebab kematian karena berbagai penyakit.   Walau pertumbuhan penduduk pada periode 2010 sampai 2015 diprediksikan hanya naik 1,2 milyart dari 6,8 ke 8 milyart- kenaikan terbesar justru terjadi pada Negara-begara miskin.
Kondisi ini juga memprihatinkan bagi penumpang di dalam bus.  Makanya mereka  bertekad  bahwa  mereka yang ada di atas bus juga harus selamat, syukur  merasakan kenyamanan  seperti yang ada dalam bus.  Sepanjang perjalanan mereka mendiskusikan  solusi pemecahan masalah, namun tak pernah ada penyelesaian karena   sebenarnya  mereka tau bagaimana seharusnya, tetapi ttidak mau mengurangi tingkat kenikmatan yang saat ini mereka rasakan.  Sementara orang-orang yang di dalam bus tidak mau mengurangi  barang yang dibawa untuk konsumsinya, belum lagi ada tambahan   penumpang di atas bus.     Gambaran   perhatian dunia utara kepada  penderitaan dunia selatan ini dinyatakan dalam diskusi dari konferensi dunia satu ke konferensi dunia  yang lain yang   menghasilkan rumusan yang indah tapi selalu lambat implementasinya, karena bola sebenarnya ditangan  dunia utara.
Cerita bantuan terpal  kalau hujan  adalah  gambaran  bantuan  yang kondisional yang sebenarnya   untuk melindungi mereka yang memberi bantuan.   Janji untuk membantu 0,7 GDP mereka untuk bantuan  ke Negara selatan  tidak pernah  dipenuhi, separuh saja belum; itupun masih banyak menyalahi prinsip-prinsip yang disepakati dalam deklarasi paris, rencana aksi akra maupun rencana aksi busan tentang  efektivitas Pembangunan.
 Sopir bus yang menentukan arah kemana  bus berjalan adalah BrettonWord  Institutions yaitu World Bank , IMF dan konco konconya.  Sang sopir menjalankan  bus dipandu oleh GPS yang  arahnya sudah diprogram   oleh dua  tiga orang yang duduk di tengah bus  dan  menikmati perjalanan dengan tidur pulas dan mendengkur.  Dia percaya  bus akan sampai ditempat apabila mengikuti  blue print yang sudah ditetapkan  dalam GPS.  Anda pasti sudah dapat menduga siapa yang memprogram GPS tersebut.
Disini  di Rio De Jeinero, semua pimpinan dunia akan berkumpul   untuk  kembali memikirkan  pembangunan yang berkelanjutan. 12 ribu orang dari berbagai belahan dunia mengharapkan dunia yang loebih sustain.  Tulisan saya terdahulu menggambarkan bagaimana  konsep masa depan yang diinginkan masih menggambarkan minoritas mereka yang ada di dalam bus, bukan mayoritas yang  ada di atas  bus.  Tantangan kita sekarang bagaimana mayoritas yang tertindas bisa menentukan arah pembangunan yang kita inginkan  ( Sigit Wijayanta, Liputan  Rio+20,  8 Jun 2012 )