Menanti Gebrakan Cameron, Ellen Johnson, dan SBY

David Cameron, Ellen Johnson Sirleaf, dan SBY akan memimpin Panel PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan

Situs berita guardian.co.uk menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf sebagai kandidat Co-Chairs Panel PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan. Ketiganya memikul tanggungjawab besar untuk memandu perumusan kerangka kerja baru tujuan-tujuan pembangunan pasca MDGs.

Inggris dipandang layak untuk menjadi co-chairs, karena negara tersebut mampu memenuhi komitmen mengalokasikan 0,7 GNP-nya untuk pembangunan internasional. Sementara Indonesia, dipandang sebagai salah-satu contoh sukses negara yang mampu keluar dari kubangan krisis sekaligus menjadi negara demokratis ketiga terbesar di dunia. Sementara Ellen Johnson Sirleaf adalah Presiden Perempuan pertama di Liberia yang mampu menarik negara tersebut dari krisis akibat perang sipil berkepanjangan.

Singkatnya, Ketiganya mewakili tiga kubu perekonomian dunia, yakni kubu negara maju yang diwakili Inggris, kubu negara berpendapatan menengah atas yang diwakili Indonesia, dan kubu negara miskin yang diwakili Liberia. Penunjukkan SBY sebagai salah-satu co-chairs dalam panel yang cukup prestisius tersebut menunjukkan semakin besarnya peranan Indonesia dalam kancah pembangunan global.

Sebagai co-chairs, tanggungjawab SBY, David Cameron, dan Ellen Johnson Sirleaf tentu sangatlah besar. Ketiganya ditantang untuk secara kritis mengevaluasi pencapaian target MDGs yang akan berakhir pada tahun 2015 yang akan datang, sekaligus merumuskan sebuah kerangka baru yang tentunya akan mengisi gap-gap MDGs, khususnya dalam hal kesehatan ibu dan anak, sekaligus merumuskan strategi pembangunan baru dalam rangka meletakkan dasar-dasar pembangunan berkelanjutan untuk kepentingan generasi yang akan datang.

Belajar dari pengalaman MDGs, sebelum ditetapkan pada September 200, PBB membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun untuk menyusun prioritas-prioritas pembangunan yang dikerjakan secara bersama-sama pada tingkat global. Tidak hanya itu, dibutuhkan pula sebuah momentum politik agar prioritas-prioritas tersebut bisa menjadi komitmen politik bersama yang ditandatangani oleh setidaknya 147 pemimpin negara.

Kini, tantangan pembangunan global semakin kompleks. Krisis ekonomi, pangan, dan pemanasan global, menjadi tantangan yang paling pelik untuk dihadapi. Bencana alam, konflik sosial dan peperangan, semakin menggerus hasil-hasil pembangunan yang pada akhirnya justru mempertinggi kerentanan global. Tidak adanya koreksi secara fundamental atas struktur politik dan ekonomi global menyebabkan upaya-upaya mitigasi terhadap krisis kadang justru mempertinggi kerentanan akibat krisis itu sendiri.

Banyak alasan untuk pesimis, meski tentu saja, tetap ada ruang untuk optimis. Bagaimana pun itu, saat ini dunia mulai menanti kiprah trio Cameron, Yudhoyono, dan Sirleaf untuk menyusun sebuah roadmap global menuju masa depan yang berkelanjutan. Mampukah ketiganya memanggul beban yang berat tersebut?

Sumber Foto: ethalaya.com