Tragedi Kematian Kartini (yang dilupakan)

Kartini (21 April 1871-17 September 1904)

Kelahiran Kartini pada 21 April 1871 diperingati sebagai lahirnya gerakan emansipasi perempuan di Indonesia. Pada tahun 1964, Soekarno mengukuhkan tanggal 21 April sebagai “Hari Kartini” guna memperingati jasa Kartini sebagai perintis gerakan emansipasi perempuan. Namun, adakah dari kita yang ingat kapan Kartini wafat? Apa yang menjadi penyebab kematian Kartini? Dan, apa makna dari wafatnya Kartini bagi kita saat ini?

Sekarang, cobalah anda tanyakan kembali pertanyaan di atas kepada teman, kerabat, atau siapapun yang ada di sekitar anda saat ini. Lantas, hitung siapa diantara teman, kerabat, atau orang-orang di sekitar anda yang tahu kapan wafatnya Kartini? Yang mengetahui apa penyebab kematiannya? Dan yang juga memahami mengapa kematian Kartini perlu kita bicarakan saat ini?

Saya cenderung yakin, jika memang ada yang tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, jumlahnya tidak akan sebanyak teman yang tahu kapan hari lahir Kartini, apa kontribusi Kartini bagi Indonesia, khususnya perempuan Indonesia, apa buku yang ditulis Kartini, dan seterusnya. Mengapa demikian? Tentu saja, karena hampir semua literatur tentang Kartini memang lebih banyak bercerita tentang kelahirannya, tentang karyanya, dan tentang kontribusinya bagi Indonesia.

Sedikit informasi untuk sekedar mengingatkan kembali momentum wafatnya Kartini. Kartini wafat pada tanggal 17 September 1904, pada saat masih berusia 25 tahun. Kematiannya hanya berselang empat hari setelah melahirkan anak pertama dan satu-satunya.  Anak itu lahir dari perkawinan Kartini dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat yang sebenarnya telah memiliki tiga istri.

Perkawinan Kartini menjadi salah-satu polemik di kalangan sejarawan, sebab sepertinya membalikkan 180 derajat citra diri Kartini yang digambar sendiri olehnya melalui surat-surat yang ditulisnya untuk Abendanon. Banyak yang bertanya, mengapa kegigihan Kartini menentang feodalisme justru berakhir dengan “kekalahan”. Namun, dalam kesempatan ini, saya tidak hendak mengulas polemik lebih jauh.

Kita bisa membuka kembali buku-buku sejarah tentang Kartini untuk mengetahui mengapa Kartini, seorang perempuan muda yang memiliki wawasan begitu luas dan juga begitu militan memperjuangkan derajat kaumnya itu harus berpulang dalam usia yang masih sangat muda. Mungkin kita juga bisa bertanya, mengapa Tuhan tidak memberinya usia lebih panjang agar dia bisa terus berkarya dan memberikan perspektif yang lebih luas dari apa yang sudah dia tulis dalam kumpulan surat “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu?

Terus-terang, saya tidak memiliki jawaban-jawaban atas pertanyaan seputar kematian Kartini. Melalui esai ini, saya ingin mengajak kita semua untuk bertanya mengapa tragedy kematian Kartini menjadi tragedy yang terus saja berulang hingga saat ini?

Kematian Ibu Melahirkan

Pada saat ini, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa saat ini tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Namun menurut Badan-Badan PBB, seperti WHO, UNICEF, UNFPA, dan bahkan Bank Dunia, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia jauh lebih tinggi dari yang diakui pemerintah, yakni mencapai 420 per 100 ribu kelahiran hidup.

Tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tak pelak menjadikan Indonesia sebagai negara dengan catatan terburuk di lingkungan ASEAN. Lihat grafik dibawah, yang menyatakan bahwa meskipun angka kematian ibu melahirkan di Indonesia berada pada posisi tengah, namun volume kematian ibu melahirkan di Indonesia merupakan yang terbesar.

Angka Kematian Ibu di ASEAN

Tidak hanya itu, pada skala global, Indonesia juga menjadi salah-satu dari 11 negara di dunia yang menyumbang 65% kematian ibu melahirkan.

Pada tingkat nasional, tahun 2010 terdapat lima provinsi yang menyumbang hampir 50% kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia. Kelima provinsi tersebut adalah Jawa Barat (2280 kasus), Jawa Tengah (1766 kasus), NTT (624), Banten (538), dan Jawa Timur (500 kasus). Lihat, Pulau Jawa—yang konon dinyatakan sebagai wilayah dengan layanan kesehatan terlengkap se Indonesia—justru menjadi penyumbang angka kematian ibu yang tertinggi.

Angka Kematian Ibu Melahirkan per provinsi di Indonesia 2010

Pendarahan, eklampsia, infeksi, komplikasi puerpurium, dan beberapa kasus lain menjadi penyebab kematian terbesar bagi ibu melahirkan. Sekitar 60% kematian ibu melahirkan terjadi di rumah atau di tempat-tempat yang tidak dilengkapi dengan sarana pelayanan kesehatan yang memadai. Namun, 40% kematian di rumah sakit bukan hal yang sepele. Tingginya kematian ibu kerap dikaitkan dengan kurangnya pelayanan kesehatan dipandang menjadi factor yang memicu tingginya kematian ibu, namun tentu saja bukan satu-satunya.

Penurunan angka kematian ibu melahirkan adalah komitmen Tujuan-Tujuan Pembangunan Global (Millennium Development Goals atau MDGs) yang disepakati oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 2007, pemerintah menyatakan bahwa angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih berada pada tingkat 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara berdasarkan perhitungan Bank Dunia dan lembaga-lembaga PBB lainnya, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia berkisar pada angka 420 per 100 ribu kelahiran hidup.

Saya tidak hendak mempertentangkan mana data yang benar, apakah pemerintah Indonesia ataukah Bank Dunia? Yang pasti, pada tahun 2015 nanti, angka kematian ibu melahirkan harus bisa diturunkan hingga pada kisaran 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Yang mana, berdasarkan perhitungan pemerintah, target tersebut sepertinya sulit untuk dicapai atau setidaknya perlu kerja yang sangat keras (lihat grafik dibawah).

Prediksi penurunan angka kematian ibu yang tidak akan tercapai (1)

Gap yang harus diatasi untuk mencapai target penurunan angka kematian ibu

Kemiskinan dan Perempuan

Jika menyimak lebih dalam, faktor utama penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia tidak lain selain kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan ibu-ibu hamil tidak mendapatkan asupan gizi yang mencukupi untuk menunjang kehamilannya. Kemiskinan juga menyebabkan berlimpahnya sarana pelayanan kesehatan di Pulau Jawa tidak mampu menekan laju kematian ibu melahirkan. Tingginya kematian ibu semakin memperjelas wajah kemiskinan di Indonesia.

Selain kemiskinan, diskriminasi dan beban ganda yang harus dipikul perempuan juga turut menjadi faktor “pembunuh” para ibu pada saat melahirkan. Faktor budaya, “kawin muda” dan aborsi akibat kehamilan yang tidak diinginkan juga menjadi faktor yang kian mempersulit posisi perempuan. Kemiskinan dan beragam diskriminasi, kekerasan, dan pengekangan kebudayaan terhadap perempuan menjadikan tragedy Kartini terus saja berulang hingga saat ini.

Saya rasa, kita belum bisa menyatakan bahwa saat ini, perempuan Indonesia telah berada dalam posisi sederajat dengan pria, ketika begitu banyak kasus kematian ibu melahirkan yang disebabkan oleh kondisi-kondisi yang sebenarnya—secara medis—dapat dicegah, atau setidaknya ditekan.

Kita juga sulit untuk mengklaim jika perempuan Indonesia saat ini telah memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan perempuan pada era Kartini, ketika begitu banyak perempuan yang terpaksa meninggal dunia karena terbatasnya pilihan-pilihan akibat kemiskinan yang menjeratnya.

Terakhir, saya rasa, salah-satu cita-cita yang (tidak tertulis) dari kisah Kartini adalah aspirasi untuk mendorong berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kematian ibu melahirkan di masa yang akan datang.

Selamat merayakan Hari Kartini …