Kusta Kembali Mengancam Kusta Kembali Mengancam

Indonesia berada di peringkat tiga dunia sebagai negara utama penyumbang kasus baru kusta.

VIVAnews – Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mewanti-wanti bahwa Indonesia berada di peringkat tiga dunia sebagai negara utama penyumbang kasus baru kusta. Penularan penyakit infeksi bakteri itu–yang bisa membuat cacat penderitanya karena dapat merusak kulit, saraf, mata dan organ tubuh lain–juga kembali melanda negara-negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara.

Indonesia, ujar Menkes di kantornya pada Senin 27 Februari 2012, ada di posisi ketiga setelah India dan Brasil. Sulitnya memberantas tuntas penyakit yang bisa diobati ini tidak terlepas dari kondisi iklim tropis di Indonesia.

“Jadi beban penyakit kusta di Indonesia masih tinggi. Jumlah kasus yang ditemukan masih relatif banyak dan cacat yang diakibatkannya masih sering terjadi,” kata Menkes, yang juga menyerukan agar eks penderita kusta tidak diperlakukan secara diskriminatif.

Karena itu, ia meminta seluruh jajaran Kementerian Kesehatan dan jajaran pemerintah terkait, bersama organisasi profesi kesehatan, LSM, serta unsur masyarakat lainnya; bekerja dan berpikir keras untuk mengatasi berbagai hambatan dan tantangan dalam mengendalikan penyakit ini.

Untuk mencegah meluasnya penyakit ini, Menkes meminta kepada masyarakat untuk mengenali penyakit tersebut dan berobat sedini mungkin. Tanda awal penyakit kusta memang tidak seperti penyakit lainnya yang memiliki gejala khas. Penyakit kusta hanya ditandai dengan bercak putih yang seringkali dianggap sepele oleh penderitanya.

“Segala upaya kita kerjakan dan penelitian-penelitian juga sudah dilaksanakan. Utamanya mengenai pentingnya untuk terus melakukan penemuan dan pengobatan dini secara teratur pada penderita kusta sebelum cacat,” ungkapnya.
Saat ini penderita kusta di Indonesia kurang dari 120 ribu orang.

Terkait penanganan terhadap penderita dan eks penderita kusta, Menkes mengungkapkan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) dalam beberapa bulan ke depan akan mengadakan program bersama dengan Kementerian Kesehatan untuk mendirikan tempat pemukiman bagi mereka. Di mana lokasinya, Menkes belum mengungkapkan.

Tingkat kawasan

Bukan hanya Indonesia yang harus waspada menghadapai naiknya jumlah penderita baru kusta. Sejumlah negara lain juga was-was akan munculnya kasus baru. “Ini masalah yang belum selesai dan kita harus mengantisipasinya secermat mungkin,” kata Direktur WHO Kawasan Pasifik Barat, Shin Young-soo, seperti dikutip The Huffington Post.

Menurut data WHO, sebenarnya Indonesia dan negara-negara tetangga di Asia Tenggara pada akhir Desember 2005 sudah berhasil memberantas wabah kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat. Tingkat penularan rata-rata hanya 0,87 per 10.000 orang, atau sudah di luar zona wabah.

Namun, belakangan muncul kasus-kasus baru dengan perkembangan yang pesat. Bahkan, menurut WHO, 68 persen dari total kasus baru kusta berada di Asia Tenggara selama 2010. Di akhir 2010, Indonesia memiliki 17.012 penderita baru.

Filipina, misalnya. Setelah sempat menyatakan diri bebas kusta pada 1998, negara itu kembali menghadapi wabah penyakit yang sama. Menteri Kesehatan Enrique Ona, seperti dikutip GMA News, mengungkapkan bahwa kasus baru kusta di negaranya mencapai 2.041 kasus, atau 0,31 per 10 ribu orang.

Sebenarnya, mengacu standar dari WHO, Filipina masih berada dalam zona aman wabah kusta. Penyakit itu digolongkan sudah dibasmi di suatu negara bila tingkat penularannya rata-rata kurang 1 per 10 ribu orang.

Namun, tetap saja pemerintah Filipina khawatir akan bertambahnya kasus baru. Masalahnya, menurut data WHO, Filipina memiliki tingkat penularan baru tertinggi se-Pasifik Barat pada 2010.

Menteri Ona bahkan khawatir jumlah kasus baru per tahun di Filipina bisa saja lebih tinggi dari angka yang resmi dilaporkan. Maka, dia mengungkapkan bahwa pemerintah Filipina kini tengah meninjau ulang program pemberantasan penyakit kusta. “Menurut saya ini adalah peringatan bagi kita agar benar-benar maksimal dalam memberantasnya,” kata Ona sebagaimana dikutip The Huffington Post.

Prioritas rendah

Mantan menteri kesehatan Filipina, Alberto Romualdez, menilai prioritas untuk memberantas penyakit lepra di negaranya tergolong rendah. Ini mengingat tingkat penularannya dianggap tidak segawat penyakit-penyakit lain. Itulah sebabnya, menurut Romualdez, sistem pelaporan jadi tidak efektif dan pendataan kasus-kasus baru penyakit itu juga tidak diperbarui.

WHO pun menyadari belum tuntasnya pemberantasan penyakit lepra di Pasifik Barat, termasuk di kawasan Asia Tenggara. “Pemberantasan kusta di Pasifik Barat merupakan suatu paradoks. Di sisi lain, hampir semua kecuali di negara-negara kecil telah memberantasnya,” kata Shin. Hanya negara-negara seperti Mikronesia, Kiribati, dan Kepulauan Marshall yang belum memenuhi target pemberantasan.

“Di sisi lain, kita terus menyaksikan tingginya kasus baru yang dilaporkan setiap tahun–termasuk lebih dari 400 kasus yang menyerang anak-anak. Sebagian besar kasus ini terjadi lagi di negara-negara yang telah memenuhi target pemberantasan, namun masih ada kasus baru dengan kenaikan yang cukup besar di wilayah tertentu,” kata Shin.

Dia menilai kasus-kasus baru itu kebanyakan muncul di lapisan masyarakat kelas bawah karena mereka kurang memiliki akses ke pelayanan kesehatan. Selain itu, stigma yang sudah melekat pada penyakit ini menyebabkan banyak kerabat penderita malah mengasingkan yang bersangkutan dari masyarakat, atau memindahkannya ke lokasi yang terpencil.

Sumber: Vivanews