Inilah Penyebab Tingginya Kematian Ibu Hamil

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu menjadi permasalahan yang cukup serius. Bisa dibayangkan kurang tercukupinya asupan dan makanan kurang berkualitas menyebabkan angka kematian ibu cukup tinggi di Indonesia.

Disamping itu kematian ibu juga disebabkan aborsi yang tidak aman, infrastruktur yang menyebabkan pertolongan persalinan tidak oleh petugas kesehatan terlatih. Penyebab tidak langsung seperti anemia, cacingan dan kekurangan gizi.

Persoalan akses air bersih juga menjadi salah satu yang menjadi pemicu. Belum semua masyarakat mendapatkan akses air bersih. Kondisi diperparah jika kekurangan akses air besih juga terjadi di lembaga kesehatan seperti puskesmas, maka ibu rentan terkena infeksi sehingga risiko kematian ibu akan menjadi lebih tinggi.

“Penyebab lain problematika kematian itu adalah tingginya kasus pernikahan terlalu dini serta jarak antarkelahiran. Kalau menikah terlalu muda masa suburnya terlalu lama sehingga punya anak berdekatan,” ungkap Diah Saminarsih, Asisten Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs media talkshow Nutritalk V: Nutrisi Selama Kehamilan Selamatkan Bunda dan Generasi Penerus Bangsa.

Berdasarkan Riskesdas 2010, permasalahan kesehatan pada perempuan berawal dari masih tingginya usia perkawinan pertama dibawah 20 tahun (4,8% pada usia 10-14 tahun, 41,9% pada usia 15-19 tahun). Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong program wajib belajar 15 tahun dengan harapan akan menunda pernikahan dini karena harus mengikuti pendidikan formal terlebih dahulu.

Permasalahan lain yang tidak kalah pentingnya adalah pemenuhan kebutuhan kalori, tiap orang perlu 2200 kalori. Untuk memenuhinya diperkirakan seseorang perlu 0,9 dollar atau Rp 8.630 = US$ per hari untuk makan, dihitung awal tahun 2010. Perhitungannya kebutuhan kalori 2.150 kal (Pedoman Umum Gizi Seimbang), Protein (tahu/tempe, telur), Karbohidrat (beras), Lemak (beras, telur, lain-lain).

Kemudian protein Nabati 50gr/hari = Rp 1.400, protein Hewani 20gr/hari = Rp 2.340, nasi sebagai sumber Karbohidrat utama 800gr/hari = Rp 4.800, Lemak 46gr/hari serta Beras + telur = 16gr 80% kebutuhan kalori = 1.715 kal = Rp 8.630 = US$ 0.96/hari/orang. “Nah, ada masyarakat yang belum bisa memenuhinya untuk sedekar kebutuhan hidupnya ini,” ungkapnya.

Kendati demikian untuk pemenuhan gizi tidak harus selalu mahal. Diah menceritakan, penelitian di lingkungan sekitar penduduknya kurang gizi tapi ada satu keluarga yang kondisinya sehat. Belakangan keluarga itu mengambil ikan kecil di danau, memasaknya lalu memberikan pada anak-anaknya dan sehat. Ikan yang dikonsumsi banyak kandungan proteinnya.

Sumber: Tribunnews