DBD Makin Susah Diberantas Karena Bumi Makin Panas

Jakarta, Perubahan iklim diketahui memiliki pengaruh negatiif terhadap perkembangan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Efek rumah kaca membuat bumi makin panas, nyamuk lebih aktif dan cepat berkembang biak sementara virusnya makin tangguh.

Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes), Prof Supratman Sukowati membenarkan bahwa perubahan iklim membuat DBD makin sulit diberantas. Perubahan itu mempengaruhi nyamuk, virus maupun manusianya sendiri.

“Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa perubahan iklim memberikan efek negatif bagi perkembangan penyakit demam berdarah. Artinya tantangan ke depan akan semakin besar,” ungkap Prof Supratman dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Kesehatan, Jumat (23/12/2011).

Bagi nyamuk, iklim yang semakin panas membuat siklus hidup nyamuk makin pendek sehingga telurnya bisa menjadi nyamuk dewasa hanya dalam 8-10 hari padahal semula butuh waktu belasan hari. Selain itu, perilaku nyamuk juga jadi lebih ganas karena saat panas nyamuk butuh lebih banyak makan darah.

Secara tidak langsung, perubahan iklim juga mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk DBD. Cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan cenderung tinggi makin meningkatkan risiko terjadinya genangan-genangan air yang merupakan habitat perkembangbiakan nyamuk DBD.

Pertumbuhan virus DBD di dalam tubuh nyamuk juga terpengaruh oleh perubahan iklim. Masih menurut Prof Supratman, cuaca yang cenderung memanas membuat virus lebih cepat menggandakan diri sehingga risiko penularan virus oleh nyamuk ke manusia menjadi lebih besar.

Sedangkan bagi manusianya sendiri, cuaca yang panas akibat perubahan iklim membuat perilaku orang cenderung malas-malasan. Makin banyak bersantai dan tidur-tiduran, maka peluang nyamuk untuk mendarat di kulit dan menghisap darahnya akan semakin banyak.
(up/ir)

Sumber: Detik