Krisis Ancam Pemberantasan Malaria

“One child still dies every minute from malaria and that is too many,” jelas Raymond G. Chamber, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Malaria.

YAKKUM-JLO. Secara global, kematian akibat malaria telah mampu diturunkan sebesar 25% dari angka kejadian tahun 2000. Sekitar 33% penurunan terjadi di Afrika. Namun, target zero death untuk malaria pada 2015 kemungkinan tidak akan tercapai akibat berkurangnya dukungan dana global untuk pemberantasan malaria.

Penurunan tingkat kematian akibat malaria adalah buah dari berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan wabah malaria, termasuk di dalamnya penyebaran kelambu, perbaikan dalam diagnose, dan perluasan penyebaran obat-obat yang efektif untuk menangani malaria.

“We are making significant progress in battling a major public health problem. Coverage of at-risk population with malaria prevention and control measures increased again in 2010. But there are worrisome signs that suggest progress might slow”, jelas Dr. Margaret Chan, Direktur Jenderal WHO.

Kekhawatiran Dr. Margaret Chan sangat beralasan. Tahun 2010, diperkirakan dari 106 negara endemic malaria, terjadi sekitar 216 juta kejadian malaria, yang mana 655 ribu diantaranya menyebabkan kematian. Diperkirakan 81% kejadian dan 91% kematian akibat malaria terjadi di Afrika. Secara global, 86% korban malaria adalah balita.

Apa yang dikhawatirkan Chan tidak lain selain dari krisis finansial yang mengancam ketersediaan dana untuk menopang operasi penurunan kematian akibat malaria. Belum lagi jika dikaitkan dengan tantangan terkini, yang mana WHO melaporkan ditemukannya kasus plasmodium falcifarum yang resisten terhadap artemisinins di perbatasan Kamboja-Thailand.

Selain itu, resistensi nyamuk terhadap insektisida juga meningkat. Berdasarkan World Malaria Report 2011, setidaknya terdapat laporan dari 45 negara—27 diantaranya negara-negara di kawasan Sub-Sahara—yang menyatakan adanya resistensi terhadap paling tidak satu dari empat klas insektisida yang digunakan untuk mengontrol penyebaran wabah malaria.

Pada tahun 2010, dana global untuk pemberantasan malaria mencapai $1,7 milyar. Dana ini mengalami peningkatan pada 2011 menjadi $2 milyar. Namun, dana yang tersedia masih jauh dibawah kebutuhan yang mencapai $5-6 milyar. Sementara itu, meski komitmen bantuan dari Inggris disebut-sebut akan meningkat, namun secara global dana yang tersedia diperkirakan hanya mencapai rata-rata $1,5 milyar per tahun hingga 2015.

Penyebab utamanya adalah akibat berkurangnya pendanaan global yang tersedia melalui program Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis, and Malaria. Sebagaimana disampaikan dalam posting kami sebelumnya, Global Fund terpaksa menghentikan pendanaan untuk program-program baru hingga 2012 sebagai akibat dari gagalnya negara-negara donor memenuhi komitmen pendanaan untuk program kesehatan global.

Padahal, sebagaimana dijelaskan dalam Laporan OECD (2011) Progress and Challenges in Aid Effectiveness, What Can We Learn from the Health Sectors, predictability dan flexibility dalam pendanaan global di bidang kesehatan adalah salah-satu kunci sukses keberhasilan program pembangunan kesehatan global.

Keadaan ini harus segera diantisipasi oleh pemerintah Indonesia. Mengingat, berdasarkan data dari WHO, pemerintah hanya mampu membiayai 14% dari $42,5 juta program pengentasan malaria di Indonesia pada tahun 2010. Berkurangnya dukungan dari Global Fund tentu saja akan memberikan dampak yang tidak kecil bagi upaya pencapaian salah-satu target MDGs tersebut. Selain mengupayakan sumber pendanaan alternatif untuk mengantisipasi kekosongan dana, pemerintah tentu saja harus menjamin efektivitas program untuk pemberantasan malaria.

Hal lain yang juga harus dilakukan adalah memberikan ruang yang lebih leluasa bagi masyarakat sipil, termasuk di dalamnya lembaga-lembaga penyedia layanan kesehatan nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan untuk memberikan kontribusi lebih besar bagi upaya kemanusiaan, menyelamatkan nyawa yang terancam akibat malaria.***

Silakan unduh World Malaria Report 2011 disini.