Sharing dari HLF4 Busan: DRR dalam Busan Outcome Document

dan Rekan-rekan Pelaku PRB
di tanah air.

Salam dari Busan,

Sore ini kota busan diguyur hujan setelah tadi pagi dihangatkan oleh Pidato yang bersemangat dari Ratu Rainna el Abdullah dari Jordan yang bicara cukup tajam menyoroti kegagalan negara-negara donor maupun mitra dalam mendorong jutaan perempuan di dunia keluar dari kemiskinan, kebodohan dan diskriminasi.

Pidatonya jauh lebih tajam ketimbang pidato dari Menlu AS, Hillary Rodham Clinton yang terlalu bersemangat untuk mendorong public private partership sebagai instrumen baru dalam pembangunan internasional.

Sedikit saya hendak men-share mengenai salah-satu output dari Pertemuan Tingkat Tinggi ke-4 sebagaimana tertuang dalam draft Busan Outcome Document yang khususnya terkait dengan apa yang selama ini menjadi concern kita selaku pelaku PRB di Indonesia.

Bisa kawan-kawan simak dalam para 25 dari Busan Outcome Document. Pada paragraf tersebut tertuang kalimat seperti di bawah ini.

25. We must ensure that development strategies and programmes prioritise the building of resilience among people and societies at risk from shocks, especially in highly vulnerable setting such as small island developing states. Investing in resilience and risk reduction increase the value and sustainability of our development efforts: To this end:

a) Developing countries will lead in integrating resilience to shocks and measures for disaster management within their own policies and strategies.

b) Responding the needs articulated by developing countries, we will work together to invest in shock resistant infrastructure and social protection system for at-risk communities; in addition, we will increase the resources, planning and skills for disaster management at the national and regional level.

Kalimat yang tertera dalam para 25, kemungkinan besar akan tertera dalam Busan Outcome Document, sebagai salah-satu upaya untuk mengisi gap dalam implementasi Paris Declaration 2005 dan Accra Agenda for Action 2008 tentang Efektivitas Bantuan atau Aid Effectiveness.

Menurut pendapat saya, dicantumkannya masalah disaster risk reduction (DRR) dalam konteks isu aid effectiveness tidak lain dari semakin tingginya perhatian dan urgensi untuk mendorong mainstreaming DRR dalam pembangunan di dunia. Sebagaimana mungkin telah sama-sama pernah kita dengar, bahwa "investing a dollar in disaster risk reduction could saves 25 dollar in disasters response".

Dari diskusi khusus, tentang disaster risk reduction, yang tadi pagi saya ikuti, muncul wacana tentang akan adanya komitmen untuk mengalokasikan 10% dari total ODA (Official Development Assistance) yang dikeluarkan negara-negara donor untuk "disaster relief". Federasi Palang Merah Internasional didukung oleh beberapa lembaga, termasuk USAID, UNISDR, GFDRR-World Bank, sepertinya berada pada tone-yang sama.

Namun memang, jika kita coba konsisten dengan frasa "investing a dollar in disaster risk reduction could saves 25 dollar in disasters response", tentunya 10% dana ODA itu seharusnya juga diimbangi dengan alokasi dana ODA untuk DRR. Sebagaimana kita ketahui, DRR adalah long-term investment and not merely about building infrastructure. The first and foremost thing to do in DRR is increasing the capacity and resilience of the community.

Pasca Busan, saya kira mungkin mulai penting bagi kita untuk mulai memperhatikan efektivitas dalam pembangunan, khususnya dalam pengembangan resiliensi komunitas dan bangsa. Kita perlu menyimak apakah komitmen sebagaimana tertera dalam Busan Outcome Document benar-benar terealisasi, yang mana negara donor dan mitranya juga telah mengintegrasikan pembangunan internasional dan nasional dalam lingkup pengurangan risiko bencana, serta bagaimana pemerintah memberikan kesempatan dan lingkungan yang mendukung masyarakat sipil–yang mana menurut Para 21 dalam Busan Outcome Document diakui sebagai salah-satu aktor penting dalam pembangunan.

Terakhir, berikut ini saya lampirkan foto Quinn Raina el Abdullah yang cantik dan telah membakar pagi yang dingin di Busan.

Wassalam

Syamsul Ardiansyah

Bidang Advokasi Platform Nasional PRB
Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum