World Disaster Report 2011: Fokus terhadap Kelaparan dan Malnutrisi

Meskipun produksi pangan global sesungguhnya cukup untuk memberi makan setiap penduduk dunia, namun pada tahun 2011 ini setidaknya terdapat 1 milyar anak-anak, perempuan, dan laki-laki yang terpaksa tidur dengan perut keroncongan. Meski, pandangan mata dunia saat ini memang tertuju pada krisis yang terjadi di kawasan Tanduk Afrika.

Kekeringan panjang yang dipadu dengan kegagalan politik dan buruknya situasi keamanan tengah mengancam setidaknya 12 juta penduduk di kawasan Sub-Sahara tersebut. Namun, menurut laporan World Disaster Report 2011, dari 925 juta penduduk dunia yang menderita kelaparan, sekitar 62% atau sekitar 578 juta diantaranya tinggal di kawasan Asia Pasifik yang saat ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Jumlah penderita kelaparan di Asia Pasifik dua kali lebih besar dari jumlah penderita di kawasan Sub-Sahara.

Mayoritas penderita kelaparan adalah penduduk pedesaan yang semestinya menjadi pusat produksi pangan. Berdasarkan laporan Foresight Project (2011), setengah dari populasi rawan pangan dunia, tiga perempat dari anak-anak yang menderita gizi buruk di Afrika, dan mayoritas penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem adalah petani pangan skala kecil.

Angka kelaparan di perkotaan juga dilaporkan mengalami peningkatan. Dalam World Disaster Report 2010 dilaporkan sekitar 4.1 juta kaum miskin kota di Kenya tergolong “highly food insecure”. Meroketnya harga pangan dunia, khususnya sejak 2008 sampai sekarang, diperkirakan meningkatkan angka kelaparan di perkotaan di berbagai penjuru dunia.

Kasus kelaparan tidak hanya didominasi negara-negara miskin dan berkembang. Dalam WDR 2011 dinyatakan sekitar 19 juta penduduk di negara-negara berpendapatan tinggi juga mengalami masalah dengan kelaparan. Pada tahun 2010 misalnya, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengeluarkan dana sebesar $68 juta melalui program ‘food stamp’ untuk menjangkau 40 juta penduduk yang terindikasi kelaparan.

Jumlah penderita malnutrisi diperkirakan jauh lebih besar lagi. Pada saat ini, diperkirakan satu milyar penduduk dunia menderita kekurangan gizi, kekurangan vitamin, dan mineral. Selain itu, 1,5 juta diantaranya menderita kelebihan gizi dan obesitas yang dalam jangka panjang akan mengalami masalah kesehatan, seperti jantung, berbagai jenis kanker, sampai diabetes. Kini, risiko obesitas tidak hanya terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi atau menengah, tapi mulai juga dialami negara-negara miskin.

Dalam laporan ini, International Federation of the Red Cross (IFRC) merekomendasikan beberapa poin. Pertama, meningkatkan investasi pertanian dan perlindungan sosial. Oxfam memperkirakan dibutuhkan dana sebesar $ 75 milyar perlu diinvestasikan di sektor pertanian dan perlindungan sosial untuk mencapai target MDGs, khususnya dalam mengurangi setengah populasi kelaparan di dunia.

Sementara menurut Save the Children, dibutuhkan dana sebesar 8,8 milyar dollar untuk mengatasi masalah gizi buruk balita di seluruh dunia.

Lebih dari itu, pemerintah di berbagai belahan dunia disarankan untuk setidaknya mengalokasikan 10 persen anggaran belanja nasionalnya untuk memperkuat ketahanan sektor pertaniannya dari berbagai ancaman akibat perubahan cuaca ekstrem yang dibawa oleh pemanasan global.

Rekomendasi kedua adalah mengubah sistem pengadaan bantuan pangan dengan mengedepankan sistem pengadaan pangan dari dalam negeri dan atau bantuan dalam bentuk tunai. Rekomendasi ini ditujukan untuk mengurangi kerentanan di masa datang sekaligus memenuhi kebutuhan pangan mendesak.

Reformasi kebijakan dan kelembagaan pertanian menjadi rekomendasi ketiga. Rekomendasi ini ditujukan untuk mengubah tataniaga pertanian guna membuka kesempatan bagi kaum tani selaku produsen pangan untuk mendapatkan manfaat secara adil dari hasil-hasil pertanian. Secara langsung, rekomendasi ini merespon sinyalemen petani sebagai the most diadvantegous people.

Keempat, mengalokasikan dana yang memadai untuk mendukung penelitian-penelitian pertanian. Penelitian ini dibutuhkan dalam rangka menemukan formula adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.

Kelima, menghormati pentingnya kesetaraan gender. Masalah gender adalah masalah fundamental dan tidak lain selain mensyaratkan kebijakan yang transformatif. Perempuan adalah kalangan yang paling menderita akibat kelaparan. Dibutuhkan kebijakan afirmatif untuk menghapuskan diskriminasi akses atas pangan yang kerap dialami perempuan. Dukungan dan keterlibatan perempuan dalam membantu mengurangi angka kelaparan juga sangat penting untuk menjamin adanya kesetaraan, kelestarian, dan kemajuan.

Selain yang dipaparkan diatas, terdapat beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari Laporan Bencana Dunia 2011. Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, silakan klik disini.