Tingginya Penyebaran HIV/AIDS karena Perilaku Pria

JAKARTA – Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi, memandang tingginya angka kasus penderita HIV/AIDS karena perilaku laki-laki yang sulit diubah.

Hampir semua tempat di mana ada laki-laki berkumpul, seperti lokasi perkebunan, pertambangan, hingga tempat wisata, di situlah ada penyebaran HIV/AIDS.

Nafsiah mengungkapkan, salah satu upaya untuk mencegah penularan atau meminimalkan penyakit berbahaya itu adalah dengan mendekatkan diri kepada agama dan menggunakan kondom. Karena itu, ia menyayangkan jika ada orang yang menentang kampanye penggunaan kondom terutama di tempat pelacuran.

“Jika agamanya tidak kuat dan memiliki perilaku seks yang berlebihan, sebaiknya para pria menggunakan kondom,” pesan Nafsiah ketika dihubungi SH di Jakarta, Jumat (23/9). Menurutnya, di area perkebunan, pertambangan, dan tempat wisata penyebaran HIV/AIDS berlangsung cepat.

Indonesia bisa berkaca pada Thailand yang memberlakukan peraturan tegas mengenai penggunaan kondom, sehingga angka kejadian HIV/AIDS di Thailand dapat ditekan.

Penggunaan kondom telah ditetapkan dalam program Tujuan Milenium Global (Millenium Development Goals/ MDG’s) 2015 yang menekan penderita HIV/AIDS di bawah angka setengah persen dari jumlah penduduk. “Di Thailand ada lokalisasi ilegal, namun penggunaan kondom ada aturannya yang tegas,” tutur Nafsiah.

Adapun di Indonesia, jika pemerintah tidak menghendaki adanya HIV/AIDS, seharusnya penggunaan kondom diwajibkan. Namun yang terjadi tidak demikian. Maka tidak heran kalau kasus HIV/AIDS di Indonesia akan terus bertambah.

Nafsiah menjelaskan, tingginya angka kejadian HIV/AIDS dapat menyebabkan semakin banyaknya kalangan keluarga yang terkena HIV/AIDS. “Angka kejadian HIV/AIDS pada pengguna narkoba saat ini turun. Tetapi pada pria yang sudah berkeluarga yang senang menggunakan jasa pekerja seks komersial, angkanya terus naik,” ujar Nafsiah.

Hal yang lebih mengerikan, kata Nafsiah, jika pria yang sudah beristri itu melakukan hubungan seks yang tidak aman secara berulang. Maka tidak tertutup kemungkinan istrinya dapat tertular, namun hal ini tidak mudah dideteksi.

Sebelumnya diberitakan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura di Papua saat ini merawat sekitar 160 pasien yang menderita HIV/AIDS. Bahkan menurut Direktur RSUD Abepura Aloysius Giay, dari 160 kasus tersebut, 50 kasus di antaranya diderita oleh anak-anak.

Di Belitung, angka HIV/AIDS juga meningkat sejak 2009. Belitung sebagai kawasan baru tujuan pariwisata memiliki permasalahan baru, yakni makin tingginya penyakit infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS. Ini karena Belitung sering disinggahi para pelaut atau nelayan dari dalam dan luar negeri.

Penulis : Heru Guntoro
Sumber: Sinar Harapan