Gakpapa Lapar, yang Penting Bisa Sekolah

KOMPAS.com – “Waktu dibangunkan nenek subuh tadi, saya heran. Kok nenek mengajak saya lari dan menyeberang jalan. Aduuuh, suaranya gaduh sekali. Hari masih gelap. Saya mendengar berkali-kali suara ledakan dari tabung gas dan sepeda motor yang meledak,” kata Choiril Fikri (8,5) saat ditemui tak jauh dari lokasi kebakaran, Minggu (7/8/2011) malam.

Menjelang pagi, siswa SD Negeri Petang 3 ini baru tahu, pasar ayam termasuk rumahnya di Jalan Abud RT 13 RW 1, Kelurahan Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu pukul 03.00, di lalap api.

Puluhan rumah dan kios hangus. Ratusan ayam dan bebek, mati. Suara ledakan dan teriakan terdengar silih berganti. Di angkasa, langit merah tersaput asap hitam.

Fikri kecil memilih mengabaikan suasana menakutkan ini dan memilih bermain dengan teman-teman sebayanya di pengungsian. Awalnya Fikri bermain dengan Ayu, Anyo, Gema, dan Vera. Tak berapa lama, belasan anak datang mengikuti.

Anak-anak laki bermain robot, sedang anak-anak perempuan bermain boneka dan masak-masakan. “Nenek sempat mengambil empat robot saya dari lemari, tapi tak sempat menyelamatkan seragam, buku sekolah dan perlengkapan sekolah saya lainnya,” jelas Fikri saat ditemui di lokasi.

Pipinya gembul karena mulutnya sedang mengunyah penuh daging ayam goreng yang dijajakan satu warung kakilima tak jauh dari lokasi kebakaran.

Ia lantas bertanya, bisakah esok ia sekolah meski tanpa seragam dan buku? Ia bertekad sekurangnya tetap bisa menjadi juara dua di sekolahnya.

“Kalau saya besok ngga masuk, saya bakal ketinggalan pelajaran,” tuturnya. Ia tidak khawatir hendak tidur dimana atau mau makan apa setelah musibah kebakaran ini. Yang ia pikir cuma, “Lapar? Itu sudah biasa saya alami. Yang penting, saya harus tetap bisa sekolah dan membalas budi nenek.”

Ia punya secercah harapan akan hal itu, sebab, neneknya sudah berjanji padanya, akan mengantarnya ke sekolah, Senin (8/8/2011) pagi. “Nenek bilang, saya tak perlu sedih, sebab, besok nenek akan mengantar saya ke sekolah,” ujar Fikri.

Menurut Yuliana (24), saudara kembar almarhum ibunya, sejak masuk sekolah, Fikri tak pernah absen masuk tiga besar siswa terpandai di sekolahnya. “Kadang juara kelas, kadang peringkat dua atau tiga. Terakhir, dia duduk di peringkat dua,” ungkap Yuliana.

Fikri mengatakan, setiap hari ia belajar dari jam 20.00 – 22.00 WIB. “Saya sedih. Sekarang saya tidak bisa belajar,” katanya sambil menunduk.

Ia berhenti mengunyah ayam goreng. Matanya menatap kosong gelas es teh-nya. Ia sebenarnya menyesal, mengapa nenek tidak menyelamatkan buku-buku pelajaran melainkan empat robot mainannya. Tapi ia tak berani menyalahkan nenek yang ia cintai. Sebab, hanya pada neneknya lah ia bergantung.

“Nenek tidak salah. Fikri yang salah karena Fikri masih kecil dan tidak bisa berbuat banyak waktu kebakaran tadi,” katanya lugu. (Windoro Adi)

Sumber: Kompas