Jerman Bangun Pendeteksi Gempa di Papua

MANOKWARI, KOMPAS.com — Pemerintah Jerman melalui organisasi nirlabanya bekerja sama dengan dua LSM di Manokwari, Papua Barat, membangun sistem deteksi dini gempa bumi. Masyarakat di sekitar alat itu juga dilatih tanggap darurat jika terjadi gempa bumi.

Satu unit alat deteksi dini gempa itu dipasang di Kantor Distrik Manokwari Timur di Kampung Pasir Putih. Lokasinya dipilih karena termasuk salah satu daerah rawan gempa dan tsunami di Kabupaten Manokwari.

Menurut Raymond Yap, Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD), Jumat (22/7/2011), alat ini dibutuhkan oleh warga yang hidup di wilayah Teluk Sayibu, Manokwari. “Manokwari memang butuh banyak alat deteksi gempa. Terlebih di wilayah yang banyak penduduknya,” ujar Raymond.

Manajer Proyek Yakkum Emergency Unit (YEU) Anastasia Maylinda Titilestari mengatakan, selain mengurangi risiko bencana, dipasangnya alat deteksi dini gempa adalah untuk memberikan pembelajaran masyarakat terhadap bahaya dan risiko gempa bumi. Hal ini penting disadari karena mereka hidup di wilayah yang potensi gempanya tinggi.

Alat ini mendeteksi getaran gempa awal yang masih belum terasa oleh manusia. Gelombang getaran awal itu akan ditangkap, kemudian disampaikan melalui bunyi sirene sebelum terjadi gelombang gempa kedua yang biasanya bersifat merusak. Suara sirene terdengar sampai radius 1 kilometer.

Yang diukur adalah intensitas gempa, bukan kekuatan gempa. Waktu antara gempa awal dan gempa kedua tak dapat dipastikan, bergantung lokasi dan pusat kedalaman gempa.

“Waktu emas antara gempa awal dan kedua itu adalah yang berharga bagi kami menyelamatkan diri,” kata Linda. Usia pakai alat deteksi buatan Secty Electronics ini bisa sampai 30 tahun dan bergantung perawatannya.

Direktur Secty Electronics Jurgen Przybylak menuturkan, alat ini sangat bermanfaat, terlebih pada kondisi malam hari saat warga tidak siap terjadi bencana. Dengan alat ini, setidaknya risiko korban jiwa dapat diminimalkan.

Agar masyarakat lebih waspada, YEU mendidik mereka menghadapi situasi sebelum, saat, dan pascagempa. Setiap kampung memiliki kelompok tanggap bencana, yang bertujuan mengatur dan mengarahkan warga tidak panik dan menuju lokasi evakuasi.

Selain mengurangi risiko bencana, dipasangnya alat deteksi dini gempa adalah untuk memberikan pembelajaran masyarakat terhadap bahaya dan risiko gempa bumi.

— Anastasia Maylinda Titilestari

Sumber: Kompas