Desa Terpencil: Warga Sakit Kadang Meninggal Di Jalan

Senin, 25 Juli 2011 | 16:40 WIB

MUARA AMAN, KOMPAS.com – Di Desa Sungai Lisai, desa terpencil di Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, tidak ada tenaga medis. Untuk berobat warga harus digotong menembus hutan. Tahun 2010 lalu ada dua warga meninggal di perjalanan.

“Di desa kami tidak ada tenaga medis. Bidan desa juga tidak ada. Kalau ada warga yang sakit parah harus digotong menembus hutan dan menyebrangi sungai ke Puskesmas Ketenong atau ke rumah sakit di Muara Aman. Tahun lalu ada dua warga yang meninggal di jalan karena terlambat dibawa ke rumah sakit,” tutur Sadriaman, Kepala Desa Sungai Lisai, Senin (25/7/2011).

Kondisi pendidikan, menurut Sadriaman, juga memprihatinkan. Murid sekolah dasar (SD) di Dusun Air Putih harus belajar di bawah rumah panggung milik kepala desa, karena tidak ada bangunan. Itu terpaksa dilakukan, sebab murid SD yang masih kecil tidak mungkin harus menempuh perjalanan satu jam berjalan kaki di tengah hutan. Merkea juga harus menyeberangi Sungai Seblat selebar 100 meter, untuk mencapai Dusun Sungai Lisai, tempat bangunan SDN 05 Pinang Belapis berada.

Seperti diberitakan sebelumnya, selama lebih dari 40 tahun Desa Sungai Lisai di Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, terisolasi. Lokasi desa yang berada di tengah-tengah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menjadi ganjalan membangun desa berpenduduk 367 jiwa itu.

Jarak Desa Sungai Lisai ke Desa Seblat Ulu yang merupakan desa terdekat, hanya 9,5 kilometer. Namun, jarak itu harus ditempuh warga Sungai Lisai sekitar tiga jam, dengan berjalan kaki menembus TNKS dan menyeberangi Sungai Seblat tanpa jembatan sebanyak dua kali.

Adhitya Ramadhan

Sumber: Kompas