Catatan dari Diskusi Peluncuran Global Assessment Report 2011

Kamis (21/7) kemarin, saya menghadiri diskusi dalam rangka peluncuran buku Global Assessment Report 2011 di Papua Room, Menara Thamrin lantai 7, Jakarta Pusat.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala BNPB Samsul Maarif, Andrew Maskrey, Senior Advisor sekaligus koordinator untuk Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction UN-ISDR, pejabat-pejabat BNPB, dan perwakilan masyarakat sipil nasional dan internasional.

Diskusi tersebut cukup menarik, khususnya dengan kehadiran Andrew Maskrey yang merupakan penulis utama GAR 2011. Peserta berkesempatan mendengarkan presentasi Andrew Maskrey yang memang sengaja datang ke Indonesia sebagai “imbalan” atas kontribusi Indonesia dalam penyusunan laporan tersebut.

Sesuai dengan namanya, GAR 2011 adalah laporan global yang tidak spesifik mengulas masalah-masalah nasional Indonesia. Meski demikian, saya mencatat beberapa hal menarik yang tertuang dalam GAR 2011 yang layak menjadi perhatian penting dari para pelaku PRB, khususnya di Indonesia.

Pertama, GAR 2011 menyimpulkan bahwa dalam beberapa decade terakhir, kapasitas PRB dari negara-negara di hampir semua kawasan di dunia mengalami peningkatan. Tingkat kematian akibat bencana-bencana besar terkait ancaman perubahan cuaca (badai tropis dan banjir) mengalami penurunan. Akan tetapi, khususnya di negara-negara dengan GDP yang rendah tingkat kematian masih cukup tinggi.

Berbeda dengan trend tingkat kematian yang menurun, kerugian ekonomi akibat bencana justru kian meningkat. Di beberapa negara yang kapasitas ekonomi rendah, bencana bisa menjadi ancaman serius bagi negara-negara yang masuk dalam kategori low-income countries.

Kedua, GAR 2011 mengingatkan akan adanya ancaman tersembunyi yang diakibatkan kekeringan. Dampak langsung kekeringan adalah turunnya produktivitas pertanian yang akan berdampak pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Secara global, kekeringan menjadi ancaman tersembunyi yang mana belum mendapatkan respon yang proporsional meskipun dampaknya sangat besar bagi kalangan miskin di berbagai belahan dunia.

Salah-satu kutipan menarik dari GAR 2011 terkait dengan kekeringan adalah: “Maybe more than any other disaster risk, drought risk is constructed by economic decisions and social choices”.

Ketiga, mengenai HFA. Meningkatnya jumlah dan kualitas dari laporan-laporan kemajuan HFA menjadi bukti meningkatnya concern pada pengurangan risiko bencana. Terdapat pula kemajuan dalam pembahasan-pembahasan mengenai indicator-indikator yang turut membantu pengembangan dan pemahaman tentang HFA. Akan tetapi, di samping kemajuan-kemajuan dalam hal kesiap-siagaan dan response, upaya pemetaan ancaman dasar (underlying risk) justru masih tertinggal. Selain itu, gender dan kesadaran public juga belum banyak menjadi perhatian. Serta, investasi dalam disaster risk management per sector dan pada tingkat pemerintah local masih cenderung terbatas.

Keempat, GAR 2011 juga kembali menekankan pentingnya pemerintah memberikan perhatian terhadap upaya-upaya pengurangan risiko bencana sebagai upaya untuk mengatasi kecenderungan saat ini, yang mana ancaman bencana terhadap sektor ekonomi justru mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Oleh karenanya, pendefinisian ulang pembangunan semakin diperlukan agar semakin sensitive terhadap bencana alam dan perubahan iklim.

Kelima, pada aspek pemerintahan. GAR 2011 menekankan pentingnya koherensi kebijakan dan perencanaan pembangunan, pendekatan incremental terhadap kebijakan desentralisasi dengan memperhatikan perbedaan kapasitas dari pemerintah daerah, penguatan akuntabilitas dan hak atas informasi, serta perlunya pelibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan.

Presentasi Andrew Maskrey kemudian disambung dengan presentasi dari Bapak Sutopo Purwo mewakili Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), salah-satu unit dalam BNPB yang dinilai memberikan kontribusi besar terhadap penyusunan GAR 2011, ibu Titin yang mewakili pejabat Bappenas yang mempresentasikan upaya pemerintah dalam mengintegrasikan perencanaan pembangunan dengan PRB, dan Pak Kristanto Sinandang yang menekankan pentingnya upaya terus-menerus dalam meningkatkan kapasitas pemerintah maupun pemangku kepentingan lain dalam hal PRB.

Pada bagian akhir, saya mewakili Yakkum dan HFI menyampaikan pandangan tentang pentingnya kemitraan pemerintah dan masyarakat serta sector swasta dalam PRB dan perlunya lingkungan kebijakan yang kondusif (enabling environment) bagi aktor-aktor PRB pada tingkat nasional untuk bisa berperan secara maksimal dalam peningkatan kapasitas bangsa menghadapi bencana.

Kemudian disambung dengan ibu Linda dari ECHO yang menyampaikan pandangan dari perspektif donor yang juga memberikan perhatian pada kemitraan serta perhatian yang lebih seksama terhadap ketidakseimbangan kapasitas antar daerah di Indonesia. Kemudian, Pak Sugeng Triutomo yang menyampaikan gagasan untuk menyusun “National Assessment Report” sebagai follow up pada tingkat nasional atas GAR 2011.

Pada bagian akhir, Pak Willem, Deputi I Kemenko-Kesra, juga menyampaikan pandangan yang mengapresiasi GAR 2011 serta memberikan aplaus pada BNPB yang telah berkontribusi pada GAR 2011. Beliau juga menyambut gagasan untuk penyusunan National Assessment Report sebagai input bagi program pembangunan pemerintah Indonesia.

Laporan lengkap GAR 2011 bisa diunduh di http://preventionweb.net/GAR atau langsung bisa diklik disini.

Di sekretariat HFI kami memiliki naskah rangkuman eksekutif GAR 2011 yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang bisa dicopy oleh semua.***