Dr Margaret Chan: Krisis Ekonomi Mengancam Kesehatan

Dirjen WHO, Dr Margaret Chan; “these are difficult times, and the challenges keep getting more and more complex.”

Jakarta. Sejak 16-24 Mei 2011 ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggelar World Health Assembly ke 64 yang diselenggarakan di Geneva, Swisst. Pada kesempatan menyampaikan pidato pembukaan, Direktur Jenderal WHO, dr. Margaret Chan menyampaikan dampak krisis ekonomi, yang tidak hanya mengancam kesehatan global, melainkan juga turut berpengaruh terhadap keberadaan WHO.

Dr. Margaret Chan mengatakan, “these global crisis are not just dips and blips in the up-and-down cycle of human history”. Oleh karenanya, menurut dr. Chan, WHO disarankan untuk tidak hanya menganggap krisis keuangan saat ini sebagai gangguan sesaat yang bisa ditangani secara temporer, melainkan menjadi babak baru untuk memulai membangun ketahanan lembaga di tengah era ketidakpastian ekonomi.

Krisis financial dikatakan telah menekan berbagai donor tradisional WHO. Hal ini menyebabkan alokasi pendanaan untuk menopang program-program peningkatan kesehatan di dunia, terpaksa ditekan. Guna menghemat biaya operasional, dr. Chan mengatakan bahwa pihaknya terpaksa menutup beberapa kantor cabang WHO.

“We are having to cut back on some of our traditional areas of work, with deep regret, but we are most definitely not bankrupt,” jelas dr. Chan.

Hal ini terpaksa dilakukan WHO mengingat saat ini adalah saat yang sulit, dan tantangan terus berkembang menjadi semakin kompleks. Dr. Chan mengatakan krisis financial 2008 yang demikian cepat menyebar dan berdampak pada negara-negara yang sebenarnya tidak secara langsung menjadi penyumbang terjadinya masalah tersebut.

Sementara, tantangan kesehatan global justru kian membesar. Chan mencontohkan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, ancaman kesehatan yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh sector-sektor lain, bencana dan perang yang juga terkadang diikuti oleh adanya serangan dan teror terhadap para pekerja kemanusiaan dan personel serta fasilitas kesehatan di wilayah-wilayah konflik, serta serangan dan kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah-wilayah konflik bersenjata.

Selain itu, Chan juga mengutip laporan Bank Dunia dan IMF mengenai inflasi harga pangan dan energy di dunia yang dianggap sebagai “the most serious immediate threat” bagi negara-negara berkembang. Inflasi harga pangan dan energy yang tidak terkendali bisa menyebabkan hilangnya seluruh generasi dari kalangan miskin di berbagai belahan dunia.

Dengan kian mengecilnya sumberdaya dan membesarnya tantangan WHO ditantang untuk mengubah strategy. “We are managing this financial situation in a prudent, rational, and carefully planned way. I introduced cost-saving measures right after the 2008 financial crisis,” ujar dr. Margaret Chan.***