Menyerahkan Urusan Ekonomi semata kepada Ekonom adalah Keliru

***Catatan diskusi dengan Prof. Ha-Joon Chang tentang Ekonomi

Pada hari ini, Rabu (18/5) saya menghadiri sebuah diskusi yang diselenggarakan Perkumpulan Prakarsa, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Diskusi tersebut menghadirkan Prof. Ha-Joon Chang dari Faculty of Economy, Cambridge University, UK.

Prof. Ha-Joon Chang adalah pria berkebangsaan Korea Selatan yang telah mengajar di Cambridge sejak tahun 1990. Sebelum mengajar di Cambridge, Prof Ha-Joon Chang memberi kuliah di Departemen of Economics, South National University, Korea Selatan.

Kurang lebih 30 buku tentang ekonomi, khususnya kritik terhadap ekonomi, telah dia tulis. Beberapa diantaranya diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia. Salah-satu buku yang saya pernah lihat adalah “Bad Samaritans: Mitos tentang Perdagangan Bebas dan Rahasia Sejarah Kapitalisme” (penerbitnya saya kurang tahu).

Menurut kabar, besok, Kamis (19/5), Prof. Ha-Joon Chang akan memberi kuliah umum di Istana Presiden. Jadi, bagi aktivis organisasi-organisasi masyarakat sipil seperti kita, kesempatan berdiskusi dengan beliau, lumayan cukup baik dan menyenangkan.

Dalam diskusi tersebut, perkumpulan Prakarsa mengangkat tema “Reclaiming the State for Economic Development”. Moderator diskusi tersebut adalah mas Budi, direktur Prakarsa. Diskusinya sendiri dimulai dengan presentasi powerpoint yang sudah disiapkan Prof. Ha-Joon Chang.

Sebelum diskusi dimulai, Prof. Ha-Joon Chang menawarkan kepada peserta untuk memilih metode diskusi. Dia sempat menanyakan apakah langsung masuk pada tanya jawab atau dia menerangkan terlebih dulu materi powerpoint yang sudah dicopy dan dibagikan ke peserta. Atas saran moderator, diskusi dimulai dengan keterangan Prof. Ha-Joon Chang atas materi presentasi yang sudah disusun Prof. Ha-Joon Chang.

Prof. Ha-Joon Chang memulai presentasi dengan menerangkan beberapa justifikasi yang melatarbelakangi adanya intervensi negara pada bidang ekonomi. Menurut Prof. Ha-Joon Chang, “at the most general level, we can say that the state intervention is justified when market fails. But identifying market failure depends on your theoretical position”.

Yang menarik pada bagian ini, meski Prof. Ha-Joon Chang adalah seorang ekonom, namun dia tidak menganjurkan kita untuk mengidolakan suatu teori ekonomi tertentu. Prof. Ha-Joon Chang menyatakan, baik paham Neoklasik, Marxist, Keynesian, Institutionalist, Structuralist dan lain-lain, memiliki kelemahan pada masalah-masalh tertentu.

Salah-satu contoh yang diajukan oleh Prof. Ha-Joon Chang adalah Singapura. Menurutnya, Singapura adalah salah-satu negara yang paling getol mendorong liberalisasi pasar, baik di tingkat kawasan maupun internasional. Akan tetapi, Singapura sendiri merupakan negara yang paling ketat mengontrol kehidupan ekonomi di dalam negerinya. Dikatakan oleh Prof. Ha-Joong Chang, lebih dari 80-90% pelayanan public di Singapura dikelola oleh negara. Selain itu, perusahaan-perusahaan milik pemerintah Singapura menjadi penyumbang GDP terbesar bagi Singapura.

Dalam konteks Singapura, Prof. Ha-Joong Chang mengatakan, “life is often stranger than fiction”.

Pada bagian berikutnya, Prof. Ha-Joong Chang menjelaskan bahwa ketika negara—khususnya negara berkembang—didorong untuk melakukan intervensi, kebijakan-kebijakan ekonominya diarahkan untuk menerapkan teori-teori ekonomi ortodoks. Ada beberapa ciri teori ekonomi ortodok yang senantiasa diterapkan oleh negara dalam rangka menghadapi kegagalan pasar. Ciri-ciri tersebut diantaranya:

– Stabilitas makroekonomi (inflasi yang rendah).
– Investasi Human Capital (khususnya pendidikan dasar).
– Perdagangan Bebas (tariff yang rendah dan seragam).
– Tidak adanya kebijakan industry (khususnya, tidak ada target dan umumnya kebijakan industrinya sangat umum, kebijakan-kebijakan yang disusun tidak disertai dengan target yang jelas).

– Tidak ada regulasi untuk investasi asing langsung.
– Perlindungan atas hak kekayaan intelektual.
– Meminimalisasi state ownership
– Mengimpor dan mengimplementasikan apa yang disebut “standard global”.

Satu persatu dari ciri-ciri tersebut diatas kemudian dibongkar dan ditelanjangi. Saya tidak bisa menerangkan semuanya. Selain karena penjelasannya sangat cepat dan brief, volume suara Prof. Ha-Joong Chang juga cukup rendah sehingga menyulitkan saya yang kebetulan duduk di tempat yang relatif jauh dari beliau.

Namun ada beberapa hal yang sempat saya catat. Misalnya, apakah inflasi yang rendah itu berarti telah terjadi stabilitas makroekonomi? Menurut Prof. Ha-Joong Chang, tidak ada korelasi antara stabilitas makroekonomi dengan rendahnya inflasi. Di beberapa Negara maju, yang mana inflasinya cukup rendah, toh tidak juga terjadi stabilitas makroekonomi. Krisis di beberapa negara di Eropa saat ini adalah contohnya. Bahkan, kontrol yang berlebihan terhadap inflasi justru berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi dan asumsi bahwa pengangguran bisa mencegah inflasi sama-sekali keliru.

Ciri lain yang juga dibongkar mitosnya oleh Prof. Ha-Joong Chang adalah mengenai perdagangan bebas. Prof. Ha-Joong Chang menyatakan bahwa beberapa negara eksporter besar di Asia Timur kerap kali dijadikan contoh sukses untuk perdagangan bebas. Yang tidak pernah dibuka oleh banyak pemerintah adalah keberhasilan negara-negara Jepang, Korea Selatan, dan China yang tumbuh menjadi pelaku ekonomi penting karena kontribusinya terhadap perdagangan dunia justru terjadi “behind the walls of protectionism”.

Prof. Ha-Joong Chang juga mengatakan bahwa “standar global” yang diterapkan melalui berbagai kebijakan ekonomi di negara berkembang sesungguhnya tidak layak disebut sebagai “global standard”. Standar-standar tersebut sebenarnya standar “anglo-american” yang sebenarnya tidak juga diterapkan oleh negara-negara maju selain Amerika Serikat.

Pada bagian akhir presentasi pengantarnya, Prof Ha-Joong Chang menyatakan bahwa ekonomi pada dasarnya adalah kebijakan politik yang sebenarnya tidak boleh begitu saja diserahkan kepada para ekonom. Meskipun kita bukan orang yang secara aktif mempelajari ekonomi, kita perlu tahu dan jika memungkinkan, menjadi “active citizen economist” agar bisa mengontrol arah kebijakan ekonomi yang tengah dirancang atau sedang dijalankan.

Adapun teori-teori ekonomi hanyalah alat-bantu untuk mengetahui kenyataan, yang bisa jadi relevan, bisa juga tidak. Penerapan teori ekonomi haruslah senantiasa disandingkan dengan kenyataan. Menggunakan teori ekonomi tanpa menyandingkannya dengan kenyataan, adalah masalah besar.

Ada banyak hal lain yang diulas Prof. Ha-Joong Chang, khususnya yang kemudian berkembang pada sesi tanya jawab. Namun mohon maaf tidak bisa saya hadirkan dalam kesempatan ini. Sebagian tersimpan dalam memori otak saya namun agak susah untuk dituangkan dalam tulisan yang ringkas.

Jika ada yang tertarik untuk mendapatkan copy materi presentasinya, akan saya upayakan untuk men-scan dan menguploadnya dalam blog.

Terima kasih atas perhatiannya.