Laporan Save the Children: Satu dari Tiga Perempuan, Melahirkan tanpa Bantuan Bidan

Satu dari tiga perempuan di dunia, melahirkan tanpa pertolongan dari siapapun yang terlatih membantu persalinan — dan dua juta perempuan melahirkan dengan sama sekali tanpa siapapun di sampingnya. Kenyataan ini termuat dalam laporan “Missing Midwives” yang diterbitkan Save the Children.

Laporan tersebut juga menyebutkan terdapat kesenjangan yang cukup lebar mengenai ketersediaan tenaga bidan di dunia. Di Inggris misalnya, hanya 1% persalinan yang terjadi tanpa pertolongan bidan atau tenaga bantuan persalinan yang terlatih, sementara itu, di Ethiopia prosentasenya mencapai 94% – hampir semua. Laporan tersebut juga menyebutkan jika pada saat ini, sekitar 1,000 perempuan dan 2,000 bayi meninggal dunia akibat infeksi dan berbagai komplikasi pada saat persalinan.

Save the Children menyatakan bahwa pihaknya telah membantu meningkatkan tiga kali lipat jumlah tenaga bidan di Afghanistan, salah-satu negara paling berbahaya untuk melahirkan. Selain itu, saat ini, 300 sampai 400 bidan tengah dilatih setiap tahun. Meski demikian baru 14% persalinan di negara tersebut yang dibantu oleh tenaga bidan.

Sama halnya dengan situasi di Indonesia, sebagian besar proses melahirkan dilakukan di rumah, baik dengan atau tanpa adanya bantuan dari keluarga dan kerabat, atau dengan pertolongan tenaga persalinan tradisional (paraji, dukun beranak), yang sebagian besar justru tidak mendapatkan bantuan dari tenaga kesehatan atau bidan terlatih dengan peralatan yang memadai. Proses melahirkan di rumah juga dipandang tidak steril, tanpa air, listrik, atau lampu.

Laporan ini juga menekankan pentingnya mendidik pria untuk mengetahui ancaman-ancaman yang mungkin terjadi pada saat istrinya melahirkan.

Gambaran yang paling mengerikan terjadi di Nigeria, dimana dari setiap lima perempuan yang melahirkan, satu diantaranya melahirkan tanpa pertolongan siapapun — dengan 34% dari kalangan perempuan paling miskin sampai 3% dari kalangan perempuan kaya.

Enam juta bayi lahir tiap tahun di negara tersebut, artinya setiap 30 detik seorang perempuan di Nigeria tengah berjuang mengatasi salah-satu momen paling signifikan sekaligus paling berbahaya dalam hidupnya. Satu dari tiga perempuan Nigeria menyatakan bahwa salah-satu alasan mereka tidak pergi ke fasilitas kesehatan untuk melahirkan karena suaminya menyatakan bahwa hal itu tidak perlu.

Sumber: Missing Midwives, Save the Children