Ditemukan Jenis Malaria Baru di Indonesia

Jakarta, Kompas – Malaria jenis baru diduga kuat telah ada di Indonesia. Di Kalimantan terdapat enam kasus malaria yang diduga kuat terinfeksi parasit Plasmodium knowlesi. Kementerian Kesehatan masih meneliti jenis malaria itu.

Kehadiran malaria baru di Asia Tenggara menambah tantangan dalam eliminasi malaria. Sebelumnya, P knowlesi hanya menjangkiti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Asia Tenggara. Belakangan parasit itu ditemukan menyebar pada manusia di Malaysia.

”Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) sedang melakukan penelitian dengan konsentrasi di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Tepatnya di arboretum yang ada monyet dan orang utan. Ada enam kasus malaria baru pada manusia ditemukan di berbagai desa di Kalimantan,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan (Kemkes) Rita Kusriastuti. Hal itu dinyatakan dalam jumpa pers tentang eliminasi malaria, Kamis (21/4).

Malaria disebabkan parasit Plasmodium. Parasit ini ditularkan kepada manusia melalui nyamuk. Empat jenis parasit malaria pada manusia yang diketahui, yaitu P falciparum, P vivax , P malariae, dan P ovale.

P falciparum dan P vivax merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Adapun jenis yang infeksinya paling berat dan mematikan adalah P falciparum.

Gejala malaria akibat P knowlesi, menurut Rita, seberat infeksi P falcifarum dan sebandel (lama) P vivax. ”Orang yang mengalami gejala malaria berat, tetapi tak sembuh bisa dicurigai. Tetapi, masih kita teliti. Penderitanya telah sembuh memakai obat malaria ACT (artemisinin-based combination therapies),” kata dia.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, jenis baru malaria ini bagian dari fenomena perubahan pola organisme. Perubahan virus, parasit, dan bakteri mungkin terjadi. ”Kasus di Kalimantan belum semuanya dipastikan,” ujarnya.

Secara terpisah, Pengelola Program Malaria Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah dan Project Officer Global Fund Malaria Rita Juliawaty mengatakan, penelitian Balitbangkes Kemkes yang juga melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2010 berangkat dari dugaan bahwa kebutuhan inang (monyet dan orang utan) untuk P knowlesi tersedia di Kalimantan.

Tahun 2011 contoh darah pasien malaria dikumpulkan dari rumah sakit pemerintah di Palangkaraya dan klinik di Waringin Barat untuk diperiksa menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) guna mengidentifikasi spesies Plasmodium. Dari pemeriksaan ada beberapa contoh darah yang positif. Namun, masih ada satu lagi uji lanjut guna memastikan P knowlesi secara genetika.

Sangat berbahaya

Jenis malaria baru itu menarik perhatian dunia sejak tahun 2008-2009. Sebuah tim penelitian internasional menerbitkan studi yang dimuat di jurnal Clinical Infectious Diseases. Para peneliti memeriksa 150 pasien malaria di rumah sakit di Sarawak, Malaysia, Juli 2006-Januari 2008. Mereka menemukan dua pertiga kasus disebabkan infeksi P knowlesi. Parasit itu mampu bereproduksi setiap 24 jam dalam darah sehingga infeksi dapat menjadi berat dan membahayakan. Diagnosis dan penanganan dini sangat penting.

Malaria Research Centre Universiti Malaysia Sarawak berkolaborasi dengan berbagai lembaga memeriksa darah 108 monyet ekor panjang liar dari berbagai area di Sarawak. Hasilnya, 78 persen terinfeksi P knowlesi. Penggundulan hutan yang mengancam habitat monyet dan penambahan jumlah penduduk ikut mempengaruhi berjangkitnya P knowlesi ke manusia.

Kasus malaria yang diduga kuat infeksi P knowlesi juga dilaporkan di China, Thailand, Filipina, dan Myanmar. Bahkan, jurnal Emerging Infectious Diseased (CDC) memuat studi berjudul Plasmodium knowlesi in Human, Indonesian Borneo. Artikel itu tentang seorang turis Australia yang positif terinfeksi P knowlesi setelah ke Kalimantan.

Tjandra Yoga mengatakan, Pemerintah Indonesia tetap fokus pada penanganan malaria P falcifarum dan P vivax yang menjadi masalah besar kesehatan.

Kemkes saat ini mencatat ada 300.000 kasus positif malaria (pemeriksaan laboratorium) dan 1,6 juta kasus dengan gejala malaria (klinis). Tahun 2010 pemerintah aktif mencari kasus malaria sehingga temuan kasus bertambah.

Pengobatan malaria dengan kombinasi obat dikenal sebagai ACT. Pemerintah telah menghentikan penggunaan kloroquin. (BBC/ http://www.cdc.gov/INE)

Sumber: Kompas