SASARAN PEMBANGUNAN MILENIUM: Perlu Pemberdayaan Perempuan dan Gizi

Jakarta, Kompas – Utusan Khusus Presiden untuk Sasaran Pembangunan Milenium Nila Moeloek merekomendasikan agar Indonesia fokus pada aspek pemberdayaan perempuan dan pemenuhan gizi. Hal itu dinilai akan sangat membantu Indonesia memenuhi target penurunan angka kematian ibu.

”Tugas saya membuat rekomendasi untuk menilai MDGs (Millennium Development Goals). Saya melihat ada kesenjangan antara atas dan bawah, terutama terkait nutrisi (gizi) dan peran perempuan,” kata Nila, Rabu (13/4) di Istana Wakil Presiden seusai menyampaikan rekomendasi seputar usaha memenuhi sasaran Pembangunan Milenium (MDGs) kepada Wakil Presiden Boediono.

Ada delapan sasaran MDGs yang harus dicapai oleh 189 negara yang menandatangani, termasuk Indonesia. Salah satu sasaran ialah peningkatan kesehatan ibu. Pencapaian sasaran ini antara lain ditandai dengan keberhasilan sebuah negara mengurangi angka kematian ibu (AKI) melahirkan sampai 75 persen dari angka pada tahun 1990-2015.

Dalam konteks itu, Indonesia memiliki target menurunkan AKI menjadi 110 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015. Target ini dinilai cukup sulit dipenuhi karena tahun 2009 Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program Pembangunan PBB (UNDP), Yayasan PBB untuk Aktivitas Populasi (UNFPA), dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, terjadi kenaikan AKI melahirkan di Indonesia dari 307 per 100.000 menjadi 420 per 100.000 kelahiran hidup. Namun, Laporan Pencapaian MDGs di Indonesia yang diterbitkan pemerintah pada tahun 2009 menyebutkan, AKI adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Nila, dalam upaya meningkatkan pemberdayaan, kelompok perempuan harus diberikan informasi, edukasi, dan advokasi sehingga memiliki pengetahuan dan mampu mengambil keputusan. Dengan cara itu, perempuan pun tampil sebagai agen perubahan di dalam keluarga.

Terkait nutrisi, Nila menilai nutrisi jangan selalu diarahkan kepada anak. ”Kita jangan melihat hanya anak yang bisa mengalami kekurangan gizi. Jika ibu hamil mengalami kekurangan gizi, angka kematian ibu akan menjadi tinggi,” kata Nila.

Terkait ketahanan pangan

Nila berpendapat, persoalan nutrisi sangat terkait dengan ketahanan pangan. Namun, ketahanan pangan merupakan porsi tugas pemerintah. ”Artinya, pemerintah perlu memikirkan upaya menciptakan ketahanan pangan. Problem ketahanan pangan bisa mengganggu perempuan dalam rumah tangga. Mereka harus memikirkan bagaimana anaknya bisa makan,” kata dia.

Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu segera diwujudkan, antara lain mendidik perempuan memahami gizi makanan, melakukan diversifikasi pangan, dan menanam tanaman pangan di pekarangan. (ATO)

sumber Kompas