HIV/AIDS: Keprihatinan dari Lembah Baliem


Dengan terbata-bata, Jacky membacakan seluk-beluk berbagai jenis penyakit kelamin, seperti sifilis, gonore, dan masalah HIV/AIDS, dari sebuah buku. Melalui sebuah mikrofon, informasi kesehatan itu tersebar hingga radius 20 kilometer di seluruh kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Jacky yang bernama asli Yakub Tamaka (17) adalah siswa kelas XII SMA PGRI, Wamena. Selasa (22/2) sore itu, bersama teman-temannya yang sebagian besar pelajar SMA, Jacky mengisi acara Kesehatan Keluarga di Radio Voice of Baliem Children (VBC) atau Suara Anak Baliem. Radio ini dikelola oleh Wahana Visi Indonesia, mitra kerja World Vision Indonesia.

Secara bergantian, mereka menerangkan dari gejala, cara penularan, pengobatan, hingga cara pencegahan berbagai penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Untuk menarik anak-anak muda mendengarkan siaran radio itu, informasi disampaikan dengan diselingi lagu-lagu Justin Bieber yang sedang ngetop di kalangan anak muda.

Bagi remaja Indonesia umumnya, penyakit kelamin dan HIV/AIDS masih sekadar pengetahuan di bangku sekolah yang perlu diwaspadai dan dihindari. Membahas hal-hal tersebut di tempat umum masih dianggap janggal dan tabu. Bahkan, penyakit yang sering disebabkan oleh perilaku seksual tak sehat itu sering menjadi bahan gurauan.

Namun, bagi remaja di Pegunungan Tengah Papua, penyakit kelamin dan HIV/AIDS adalah tantangan yang harus mereka hadapi. Bukan sekadar teori atau bahan pelajaran kesehatan, HIV/AIDS hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya anak-anak muda membawa penyakit kelamin dan HIV/AIDS ke ranah publik itu mendobrak kebuntuan sosialisasi HIV/AIDS akibat keengganan orang dewasa di Wamena untuk membahas persoalan tersebut.

Untuk menyebut nama HIV/AIDS saja, banyak orang dewasa yang menghindarinya, terutama apabila ada keluarga atau kerabat yang mengalami gejala berbagai penyakit akibat penurunan daya tahan tubuh secara terus-menerus. Mereka menyebut HIV/AIDS sebagai penyakit ”salah jalan” atau penyakit ”itu sudah”.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Jayawijaya per 31 Desember 2010, jumlah pengidap HIV/AIDS di daerah itu mencapai 1.068 orang. Perinciannya, 259 pengidap HIV dan 809 penderita AIDS. Pengidap HIV yang berusia antara 15 tahun dan 19 tahun mencapai 57 orang serta yang terkena AIDS mencapai 117 orang.

”Jika pada usia 15 tahun sudah terkena AIDS, ia terinfeksi HIV sekitar 3-4 tahun sebelumnya. Dapat dibayangkan, pada usia sangat muda, mereka sudah mengenal hubungan badan tak sehat,” kata Rachmat Willy Sitompul, dokter yang mengelola VBC.

Anak-anak itu, Willy melanjutkan, kemungkinan besar tertular HIV/AIDS dari hubungan badan yang dilakukan dengan orang dewasa atau teman sebaya. Padahal, perilaku seks orang dewasa di Papua umumnya sangat berisiko karena sering berganti pasangan dan rendahnya kesadaran untuk menggunakan kondom.

Hasil Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) di Papua pada tahun 2006 yang dilakukan Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan) dan Badan Pusat Statistik menunjukkan, hubungan seks pertama pada usia di bawah 15 tahun cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Survei menunjukkan, sebanyak 54,7 persen laki-laki melakukan hubungan seks pertama dengan teman dan 3 persen dengan pekerja seks. Adapun hubungan seks pertama perempuan dengan temannya mencapai 23,8 persen dan 0,1 persen dengan pekerja seks. Sisanya melakukan hubungan seks pertama dengan suami atau istri.

Penggunaan kondom sangat rendah. Data STHP menunjukkan, hanya 2,8 persen orang dewasa di Papua yang menggunakan kondom saat berhubungan badan.

Jumlah pengidap HIV/AIDS di Papua diperkirakan hanya puncak dari fenomena gunung es. Kondisi itu ditopang sikap masyarakat yang cenderung tertutup terhadap HIV/AIDS serta akses kesehatan yang sulit dan terbatas di daerah Pegunungan Tengah.

Pergaulan bebas

David Tangke (18), penyiar VBC lain yang juga siswa SMAN 1 Wamena, menuturkan, pergaulan bebas telah menjadi perilaku sebagian anak muda Wamena. Lemahnya pengawasan orangtua yang cenderung tak peduli, sikap anak yang ingin bebas karena merasa sudah dewasa, dan perasaan agar tak dianggap remeh oleh teman-teman sebaya membuat hubungan seks di luar pernikahan sering terjadi.

Tradisi tukar gelang, yang dahulu dilakukan oleh orangtua mereka pada masa remaja untuk mencari jodoh, kini berubah makna menjadi pencarian rekan untuk berhubungan seks. Masuknya pornografi dengan mendompleng teknologi, baik melalui telepon seluler maupun keping cakram, semakin mendorong terjadinya hubungan badan pada usia dini.

Hubungan seks tak sehat itu menyebabkan puluhan teman David, baik di bangku SMP maupun SMA, hamil di luar nikah. ”Hanya 25 persen dari kasus yang ada, pihak laki-lakinya mau bertanggung jawab,” katanya.

Obrolan tentang pendidikan seks itu tak berakhir di ruang siar. Para penyiar VBC yang berjumlah empat orang juga aktif menjadi penyuluh pendidikan seks bagi teman mereka.

”Di luar siaran, banyak teman yang bertanya lebih lanjut tentang penyakit kelamin. Kalau dengan kami yang sebaya, mereka bisa bertanya dengan enak tanpa perlu malu,” kata Elvis Arthur Kuway (20), yang memiliki nama siar Pazort.

Jacky menambahkan, saat bertemu dengan teman-temannya, informasi tentang penyakit kelamin lebih mudah disampaikan dengan bahasa yang dimengerti anak muda serta dengan gambar-gambar untuk membuat mereka lebih memahami penyakit kelamin dan HIV/AIDS.

”Tanpa mereka paham penyakitnya, sulit bagi teman-teman untuk mengetahui risikonya,” kata Jacky.

Meski demikian, upaya untuk mengubah kebiasaan seks di luar pernikahan di kalangan remaja Wamena, mereka akui, bukan hal gampang. Kebiasaan buruk itu perlu diubah secara perlahan dengan penyampaian informasi yang benar tentang penyakit kelamin dan secara terus- menerus. (M Zaid Wahyudi)

Sumber: Kompas.